Adanya Kecemburuan Nelayan Tradisional Kepulauan Aru
Kamis | 8 Februari 2018 | 15.34 WIB

Hallo.id, Jakarta - Komisi IV DPR RI menemukan adanya kecemburuan dari nelayan tradisional di Kepulauan Aru terhadap nelayan kapal-kapal besar yang notabene berasal dari Pulau Jawa. Hal tersebut terungkap saat Komisi IV meninjau langsung kondisi nelayan di Pelabuhan Perikanan Belakang Wamar, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku Tenggara, Rabu (7/2/2018).

“Sebenarnya ini fenomena yang cukup menarik, dimana setelah pemerintah mengusir kapal-kapal nelayan asing yang masuk ke laut Indonesia, khususnya di Kepulauan Aru ini, maka masuk kapal-kapal nelayan Indonesia eks (bekas pengguna) cantrang dari Pulau Jawa. Sehingga ikan yang menjadi sumber daya hewani bisa seutuhnya dinikmati oleh nelayan kita sendiri,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI Rahmad Handoyo.

Sayangnya, masuknya nelayan eks cantrang dari Pulau Jawa itu memunculkan permasalahan baru, yakni adanya kecemburuan nelayan tradisional asli Kepulauan Aru terhadap nelayan eks cantrang dari Pulau Jawa yang notabene memiliki fasilitas dan kapal yang lebih besar. 

Oleh karena itu ia menilai perlu adanya pengaturan jalur penangkapan ikan disini. Sehingga kedua belah pihak yang sama-sama merupakan nelayan dalam negeri dapat melaut dan mencari nafkah secara berdampingan.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Badan Riset dan SDM Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Zulficar Mochtar yang ikut mendampingi Komisi IV. 

Zul, begitu ia biasa disapa, mengatakan bahwa sejatinya masuknya nelayan eks cantrang dari Pulau Jawa ke Kepulauan Aru ini sejalan dengan tujuan pemerintah (KKP) membawa nelayan-nelayan eks cantrang untuk melaut di kepulauan ini yang gemuk akan jumlah ikannya.

Terkait adanya kecemburuan dari nelayan tradisional asli Kepulauan Aru ini, Zul mengatakan bahwa sejatinya sudah ada ketentuan yang mengatur tentang alur penangkapan ikan bagi kapal-kapal nelayan baik nelayan tradisional dengan kapasitas 10 GT (Grosston), diatas 10 GT, hingga 30 GT.

“Kapal-kapal eks cantrang masuk ke Kepulauan Aru ini sejak pertengahan 2017. Dan di sini kami katakan bahwa nelayan-nelayan harus mendapat perhatian yang sama. Sementara itu nelayan tersebut memiliki fasilitas yang berbeda seperti kapal dengan kemampuan 30 GT, dan dibawah 30 GT. Sebenarnya itu sudah ada aturannya, sudah ada manajemen alurnya, dimana kapal dengan 30 GT baru bisa menangkap ikan, dan di batas mana kapal 10 GT bisa menangkap ikan. Jika aturan tersebut dijalankan, saya yakin tidak akan ada kecemburuan," pungkasnya.

Selain itu juga perlu dialog antar kedua belah pihak, baik nelayan tradisional ataupun nelayan kapal besar yang dimediasi oleh pemerintah atau instansi terkait lainnya, sehingga kecemburuan tidak akan terjadi lagi. (nwi)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.