Anomali Ekonomi : Ekonomi Tumbuh Daya Beli Turun
Kamis | 5 Oktober 2017 | 11.9 WIB

Oleh : Ahmad Hidayat

Jika ekonomi tumbuh sampai 5%, seharusnya diikuti oleh daya beli masyarakat yang baik. Faktanya, masyarakat dan pengusaha ritel merasakan daya beli konsumen lesu. Bisakah daya beli masyarakat menurun, tetapi di sisi lain ekonomi dikabarkan tumbuh? 

Jawaban dari pertanyaan ini sungguh sulit dijawab, karena rumusnya adalah ekonomi akan tumbuh baik, jika perkembangan kegiatan perekonomian suatu negaran yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah, dan kemakmuran masyarakat meningkat. 

Karena pertumbuhan ekonomi selalu bersamaan dengan daya beli. Oleh karena itu menjaga inflasi (yaitu naiknya harga barang dan jasa disertai dengan menurunnya nilai uang dan daya beli),  itu penting, karena 55% dari PDB kita disumbang dari konsumsi rumah tangga.

Mengenai keadaan ambigu ini, ada kemungkinan disebabkan oleh pola atau gaya belanja masyarakat. Sebagaimana diketahui, bahwa tengah terjadu shifting atau pergeseran cara masyakat berbelanja dari toko ritel konvensional ke e-commerce. 

Toko online makin menjamur, platform jual-beli hingga usaha rumahan sekarang sangat sulit terdeteksi berapa omzetnya. Indikatornya sangat jelas misalnya dapat kita lihat dari data BPS adanya peningkatan  pengiriman paket barang via kereta api pada triwulan I 2017, sebesar 39.99 juta ton, naik 18,32% dibandingkan periode yang sama di tahun 2016.  Dan indicator-indikator lainya.

Kemungkinan selanjutnya adalah karena masyarakat cenderung menggunakan uanganya untuk menabung. Data dari Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) yang dirilis Bank Indonesia, DPK per juli 2017 mengalami kenaikan sebesar 9,5%, atau mencapai 4.897 triliun dibanding posisi juli 2016. 

Jadi masyarakat ramai-ramai mengubah gaya hidupnya, dari konsumtif ke dmenabung, atau bisa kita sebut orang-orang kaya meng-convert dananya menjadi obligasi.

Kesimpulannya adalah daya-beli masyarakat sebenarnya tidaklah turun, toh mereka masih mempunyai dana yang terkonfirmasi dengan meningkatnya simpanan di bank. Artinya masyarakat mengerem konsumsi bukan karna tidak mempunyai uang, melainkan perubahan gaya hidup.

Ahmad Hidayat adalah President   IFC & CEO Artha Capital.


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.