Talk show dengan judul ‘Menuju Indonesia Baru’ berlangsung Sabtu siang tanggal 20 Oktober di gedung Smesco Jakarta.
Senin | 22 Oktober 2018 | 9.54 WIB

FENOMENA IBU-IBU atau emak-emak ingin ikut dalam kancah politik tahun ini menjadi sangat kasat mata. Apalagi setelah calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno di KPU saat baru mendaftar untuk pencalonannya berteriak sudah saatnya ada Partai Emak-emak.

Kontan saja teriakan Sandi disambut antusias emak-emak dari Ibu Kota hingga berbagai daerah di pelosok negeri ini. Hingga saat ini muncul jutaan emak-emak pendukung Prabowo Sandi yang disebut PAS atau PADI.

Salah satu dukungan riil kalangan emak-emak ini yakni mendirikan grup sosial media dengan aneka nama. Mulai dari nama grup yang terkesan biasa hingga mengambil nama yang lucu-lucu.

Salah satunya bernama Grup Melati Putih Indonesia atau MPI. MPI yang dipimpin Fifi Susanti beranggotakan lebih dari 400 orang. Mereka tergabung dari berbagai kalangan profesi di berbagai daerah,utamanya di Jakarta. Grup medsos ini terus melakukan berbagai kegiatan dari Gerakan Rabu Biru yang berlangsung di mall-mall di Jakarta hingga Talk Show.

Talk show dengan judul ‘Menuju Indonesia Baru’ berlangsung Sabtu siang tanggal 20 Oktober di gedung Smesco Jakarta.

Diskusi yang dihadiri 300 Emak2 dengan pembicara mantan Kabulog Doktor Rizal Ramli, Doktor Rocky Gerung dan Doktor Haikal Hasan yang lebih dikenal sebagai ustad Haikal berlangsung cukup meriah.

Tiket seharga Rp 150 ribu tidak dianggap mahal karena 3 pembicara tersebut memiliki ciri yang disukai para peserta terutama tuk membuka wawasan berpikir tentang politik dan ekonomi Indonesia.

Bukan hanya tegas dan spontan jika tampil di tv tetapi Rocky dalam Talk Show kembali mengingatkan sekarang ini Indonesia berada pada situasi mangkrak atau macet dalam segala hal- lebih ekstrim disebut era dongokrasi.

Pria berdarah Manado itu berharap Indonesia cepat keluar karena yang terjadi saat ini the Beginning of the End harusnya sekarang the Kind of the New Beginning atau kita ubah ke Indonesia biru yakni Indonesia berwawasan kelautan.

Terkait keperpihakan pers menurut Rocky sekarang pers malah menjadi publik speaking pemerintah bukan publik speaking tuk rakyat

Sedangkan ustad Haikal yang dulu aktif di ECONIT bersama Rizal Ramly mengaku beruntung bisa ketemu dengan koleganya itu dalam acara yang di buat MPI. Dia menilai Rizal sebagai pejabat yang bersih dan tetap vokal.

Saat menjabat Kabulog misalnya, Rizal terbukti berhasil menyelamatkan uang negara sebesar 6 trilyunan selama 9 bulan. “Figur seperti Rizal tidak ada dalam pemerintahan ini,” tutur Haikal.

Pemerintahan Jokowi yang hari ini tepat 4 tahun memerintah menurut Haikal banyak keanehan. Ini ditandai dengan maraknya LGBT, muncul istilah Islam Nusantara hingga pembungkaman terhadap yang kritis.

Pria humoris tersebut mengaku ketika diundang sebuah perusahaan farmasi besoknya perusahaan tersebut ditegur oleh aparat berwenang. Pengalaman seperti itu diakuinya telah lebih 4 kali. Akibattnya acara yang harusnya dihadiri Haikal dibatalkan di beberapa daerah.

Haikal mengingatkan pendukung Prabowo agar mewaspadai KPU. Alasannya pertarungan sesungguhnya bukan di jalan, di Medsos, atau di mimbar di pesantren tapi di KPU. Apalagi Mendagri Cahyo Kumolo menurut Haikal telah menyerahkan 31 juta nama yang tidak boleh dibuka.

Pembicara ketiga Rizal Ramli mengaku pemerintahan Jokowi memang suka berutang karena tuk mengurus masalah bencana Palu harus kembali berutang sebesar 1.5 milyar dollar Amerika. Padahal jika Jokowi telepon Presiden AS Trump atau Deng Xiaoping atau kepala pemerintahan lain diyakini bakal dibantu karena ini masalah kemanusiaan.

Terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lambat dikisaran 5 persen Rizal mengaku dulu beberapa negara di Eropa juga mengalami hal yang sama tetapi kebijakan mereka segera memberi stimulus berupa keringanan pajak dan kondisi akan diganti jika ekonomi sudah membaik. Utang Indonesia bertambah lagi sebesar 4,7 trilyunan tahun ini tutur Rizal.

Rizal menyayangkan pendapat beberapa ekonom yang bilang Indonesia era ini lebih baik dari tahun 1998. Padahal era ini dinilai lebih buruk karena pada tahun 1998 Indonesia masih mempunyai banyak tabungan dari hasil kopra/ kelapa sawit/ karet dan lainnya sehingga Indonesia tidak anjlok.

Oleh Nina Bahri, mantan wartawan


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.