Bursa Capres-Cawapres Dinilai Mencerminkan Gairah Masyarakat
Jumat | 4 Mei 2018 | 17.6 WIB

Hallo.id, Jakarta – Munculnya nama para tokoh dari kalangan usia relatif muda dan senior dalam bursa capres-cawapres pada sejumlah survei dinilai mencerminkan gairah masyarakat untuk memiliki figur yang mereka dambakan sebagai calon pemimpin masa depan.

Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan Jakarta Dr Emrus Sihombing kepada pers di Jakarta, Kamis (3/5/2018) mengatakan munculnya nama para tokoh baik muda maupun tua tersebut harus disambut gembira karena alternatif pilihan menjadi beragam.

Dalam konteks ini, maka dikotomi tokoh tua dan muda tidak relevan lagi.

Munculnya nama-nama yang disebut bakal menjadi capres atau cawapres, hendaknya tidak dilihat dari perbedaan usia tua dan muda. “Kita harus melihat kemunculan para tokoh itu dalam kerangka kompetensi ‘leadership’. Jadi apakah dia tokoh yang disebut muda atau tua ataupun senior, bukan masalah,” katanya menanggapi semakin banyaknya tokoh yang muncul dalam bursa capres-cawapres.

Emrus mempertanyakan kepada tokoh muda apakah sudah punya pengalaman manajerial dan keahlian dalam memimpin. Jika semua terpenuhi, maka tak masalah.

Meski demikian, bukan berarti tokoh tua juga tak boleh muncul dalam bursa capres-cawapres.

“Yang kita butuhkan adalah tokoh yang memiliki keahlian, kepemimpinan dan mereka yang mampu merekatkan elemen bangsa yang mulai dicabik-cabik oleh sekelompok masyarakat. Ini yang sangat penting, bukan soal tua atau muda,” kata Emrus yang mengajar di pascasarjana Universitas Pelita Harapan ini.

Sederet tokoh yang masuk klasifikasi senior, kata Emrus, antara lain Ketua PBNU Said Aqil Siradj, mantan Ketua Mahkamah Kontitusi Mahfud MD, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan juga Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tandjung.

Sedangkan tokoh yang disebut muda antara lain Ketua umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua umum PPP Romahurmuziy, Gubernur NTB Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 dari Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Tepat Direktur Eksekutif Lembaga Emrus Corner ini menyatakan, partai politik yang akan mengusung capres-cawapres, tinggal melakukan komunikasi politik untuk mencari dan memilih figur yang tepat yang akan diputuskan baik sebagai capres maupun cawapres.

“Dalam politik, komunikasi, ‘bargaining’ dan tawar-menawar untuk mendapatkan posisi apa dan mendukung siapa, itu kan hal wajar. Kita harus tumbuhkan semangat demokrasi yang sudah kita bangun,” ujar Emrus.

Dalam konteks kontestasi pemilihan, Emrus lebih menyarankan agar Pilpres 2019 menampilkan dua pasangan capres-cawapres sehingga demokrasi bisa dilaksanakan dengan baik.

“Jangan dengan satu pasangan saja yang berarti akan melawan kotak kosong, itu tak elok. Selain itu saya juga menilai, jika ada tiga pasang atau tiga poros, hanya akan menghabiskan energi dan biaya,” katanya.

Idealnya dua pasang sudah sangat tepat. “Tinggal rakyat yang memilih dan menentukan siapa pemimpin yang diinginkan,” katanya. (smy)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.