Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Didzolimi Paspampres Jokowi
Senin | 19 Februari 2018 | 10.43 WIB

Oleh : Agnes Marcellina

Arti kata zalim berasal dari bahasa Arab yang artinya melanggar hak orang lain. Zalim dalam ajaran Islam adalah meletakan sesuatu / perkara bukan pada tempatnya. Zalim juga bisa digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang lain dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan penganiayaan, kemungkaran, ketidak-adilan dan banyak lagi.

Zalim pada dasarnya sifat keji dan hina, sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.

Seandainya penguasa tidak menujukkan keangkuhannya, tentulah rakyat juga akan menghormati.

Kejadian hari Sabtu, 17 Februari 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat pertandingan olah raga sepak bola Piala Presiden, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan Didzalimi ! ya betul, dizalimi oleh Paspamres.

Anies tidak diperbolehkan naik ke podium mendampingi presiden untuk memberikan piala yang kebetulan pemenangnya adalah Persija, tuan rumah dan Anies sebagai gubernur adalah tuan rumahnya.

Paspamres jelas sudah menzalimi Anies, melanggar hak Gubernur, melakukan ketidakadilan, melakukan sikap yang hina yang seharusnya menggunakan akal baik sebagai manusia maupun dalam tugasnya sebagai paspamres.

Paspamres rupanya tidak paham dengan Undang-Undang RI No. 9 Tahun 2010 Tentang Keprotokolan, Pasal 13 yang bunyinya : “Tata tempat bagi penyelenggara dan / atau pejabat tuan rumah dalam pelaksanaan Acara Resmi sebagai berikut : a. dalam hal Acara Resmi dihadiri Presiden, dan / atau Wakil Presiden, penyelenggara dan/ atau pejabat tuan rumah mendampingi Presiden dan /atau Wakil Presiden”.

Kejadian tersebut bukan saja memalukan tetapi juga merupakan penghinaan kepada pejabat dalam hal ini Gubernur Anies Baswedan. Sebagai warga Jakarta, saya juga marah melihat perbuatan tidak pantas tersebut yang dilakukan oleh Paspamres yang entah atas insiatif sendiri atau memang diperintahkan?

Oleh sebab itu Presiden tentu harus meminta maaf dan saya percaya bahwa sebagai kepala negara beliau harus menunjukkan sikap yang memberi contoh kepada rakyatnya untuk menjunjung tinggi norma norma sopan santun, etika, protokoler yang selama ini diterapkan dengan baik apalagi ada dalam Undang Undang.

Sekalipun itu kesalahan dari Paspamres, tentu Presiden bertanggung jawab karena mereka adalah anak buahnya. Secara politik, peristiwa ini tentu akan menimbulkan persepsi yang berbeda beda.

Menurut saya, hal ini akan merugikan posisi politik presiden Joko Widodo. Panitia yang tidak menyebut nama Anies Baswedan padahal beliau adalah tuan rumah, tentu bukan hal yang tidak disengaja. Masyarakat akhirnya akan melihat bahwa sikap sikap penguasa saat ini sangatlah tidak elok.

Demokrasi, toleransi, revolusi mental sepertinya betul betul hanya menjadi jargon dan slogan yang tidak ada artinya tetapi hanya disuarakan dengan keras tanpa makna.

Betapa bedanya sikap yang ditunjukkan oleh pemimpin saya yang belum lama ini dalam berpidato di acara Ulang Tahun Gerindra ke 10, ketua umum Prabowo Subianto menyampaikan :

“Lawan saja jangan kita fitnah, jangan kita hina, jangan kita jelek-jelekan. Angkat setinggi-tingginya yang baik baik, yang tidak baik tanam sedalam-dalamnya. Kita tidak boleh menganggap diri kita hebat, kita percaya bahwa setiap bangsa dalam keadaan yang sulit membutuhkan patriot patriot yang benar benar setia, yang ingin berbuat kebaikan untuk rakyat dan bangsanya.

Marilah kita cari kebaikan, marilah kita cari kedamaian. Marilah kita jaga kedamaian. Jangan menganggap perdamaian dan kedamaian itu begitu saja. Pohon dan tanaman saja kita rawat dan kita jaga, apalagi KERUKUNAN, apalagi KEDAMAIAN, apalagi DEMOKRASI.”

Jika seandainya pemimpin negara saat ini dapat memberikan petuah dan contoh kepada rakyat seperti apa yang dilakukan oleh Prabowo, tentu lah akan menyejukkan hati. Seandainya saja penguasa tidak menujukkan keangkuhan kepada rakyatnya, tentulah rakyat juga akan menghormati.

Intinya satu teladan yang diberikan oleh Prabowo jauh lebih bermakna daripada slogan slogan yang isinya pencitraan dan omong kosong belaka.

Agnes Marcellina adalah penggiat medsos. Tulisan ini pernah dipublikasikan di Facebooknya.


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.