Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Abinsaid.
Kamis | 11 Oktober 2018 | 11.33 WIB

Hallo.id, Jakarta - Menjamu delegasi Annual meeting IMF-World Bank dengan mewah, pemerintah diminta jangan tutup mata dengan korban bencana alam Lombok dan Sulawesi Tengah. Pasalnya, baik korban Lombok dan daerah Sulteng yang terkena gempa dan tsunami hingga saat ini masih belum teratasi semua dengan baik.

"Kami melihat momentum saat ini ada anggaran untuk pertemuan IMF di atas Rp800 miliar, ketika dikomparasikan ada masalah di Palu dan Lombok. Kita harus lebih memuliakan warga Lombok dan Sulteng," kata Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gamal Abinsaid dslam acara Diskusi Rabu Seru di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Saat ini, kata Gamal, ada ratusan orang terkena penyakit malaria di Lombok pasca gempa bumi. Dia pun meminta pemerintah tidak menutup mata atas apa yang terjadi pada masyarakat korban bencana alam dengan adanya acara IMF Wordl Bank di Bali tersebut.

"Jadi bagaimana memperlakukan tamu delegasi IMF dengan mulia, juga memberi hal yang sama pada saudara kita di Lombok. Jadi mengurangi kemewahan, masyarakat Lombok perlu mendapat perawatan," ujarnya.

Bahkan, Gamal menyarankan pemerintah mengajak para delegasi pertemuan IMF-World Bank untuk mengunjungi Lombok dan Sulteng, agar mengetahui betul jika ada yang lebih membutuhkan anggaran besar.

Dia pun menyayangkan anggaran yang digelontorkan untuk acara tersebut, di tengah kondisi beberapa wilayah di tanah air tengah berduka dan membutuhkan bantuan dari semua pihak.

"Kita bisa menikmati kemewahan saat saudara-saudara kita tengah dilanda bencana. Coba ajak ke Palu dan Lombok para tamu IMF agar lihat," ucap Gamala.

Dalam kesempatan yang sama, ahli ekonomi dan strategi pemerintahan, Harryadin Mahardika mengusulkan acara pertemuan tahunan IMF-World Bank dipindak ke Palu, Sulteng.

Tujuannya, agar pemerintah Indonesia pekanterhadap warganya yang terkena bencana alam.

"Ini usul yang baik," ujar Harryadin.

Dia juga menyoroti besarnya anggaran yang dikeluarkan demi Terselenggaranya acara pertemuan tahunan IMF-World Bank tersebut, dibandingkan untuk membangun rumah korban gempa Lombok.

"Pertemuan itu habiskan biaya Rp819 miliar, sementara 250 miliar bantuan untuk Lombok belum bisa dicairkan. Kenapa enggak 810 miliar itu dikurangi? Kenapa kamarnya enggak diturunkan bintang 4 dan hanya 6 juta/hari," kata Harryadin heran.

Sementara Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan mengatakan, meskipun rncana pertemuan IMF-World Bank tidak bisa dibatalkan, namun ia menyoroti posisi IMF dan World Bank di dunia saat ini.

"Saya justru menyoroti IMF dan World Bank, secara institusi ini bermanfaat atau tidak. Peran IMF sebelumnya hanya supervisi, kemudian dikembangkan IMF menjadi lembaga membantu keuangan. Tapi banyak negara yg dibantu malah semakin miskin," kata Anthony. Demikian, seperti dikutip Pusatsiaranpers.com. (ver)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.