Jika Indonesia pecah, maka dapat dipastikan Cina bisa mengendalikan Indonesia.
Rabu | 19 Juni 2019 | 8.57 WIB

PERTANYAAN diatas, sangat mudah dijawab dengan logika sederhana, yaitu Asing. Tapi apakah elemen bangsa tidak ada yang diuntungkan, tentuya ada, yaitu Para pengusaha Hitam . Para pengusaha hitam yang di maksud adalah pengusaha yang mengambil kesempatan di tengah kekacauan. Karena mereka dengan mudah memiliki akses kemana saja dengan uangnya. Bagi pengusaha Hitam keuntungan adalah segala-galanya, mereka bisa berkuasa dengan Cuannya. Yang kedua adalah Oknum Polisi korup, Karena polisi korup biasanya, selalu memanfaatkan celah di tengah kerusuhan, untuk menekan pengusaha, dan menekan pejabat, karena dalam ketidaktertiban selalu ada oknum polisi yang memanfaatkan.

Ketiga komponen diatas melahirkan turunannya yaitu Jaksa dan Hakim, dan turunan tearakhir adalah para pengacara. Pertanyaanya kenapa aparat hukum semua ? karena ketidaktertiban akibat hukum yang tidak jalan, dan tebang pilih, yang melahirkan perpecahan bangsa. Sedangkan pengusaha hitam dan Asing adalah pemanfaat atau benalu yang selalu bersandar keaparat hukum. Sedangkan aparat hukum, butuh uang untuk operasional mereka hidup dan berkehidupan. Oleh karena itu di butuhkan kecintaan yang total bagi tanah air tercinta.

Namun dari semua itu, yang paling diuntungkan adalah negara Asing, Mereka diuntungkan jika Indonesia pecah adalah, Singapura, Cina, dan Australia. Singapura melihat potensi ekonomi Indonesia yang besar, sehingga paling punya kedekatan kepentingan yang besar pula, terhadap Indonesia. Cina memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik yang besar, sama dengan Australia. Bedanya, Cina memiliki cadangan devisa yang besar, sehingga bisa digunakan  untuk melakukan intervensinya, melalui pinjaman jangka panjang. Akibatnya Indonesia bisa  “kena jebakan hutang” Cina. Selain itu Cina memiliki Problem populasi, yang harus bisa diselesaikan dengan baik. Indonesia adalah salah satu negara yang bisa dijadikan penampungan atas kelebihan populasi Cina.  Dalam hal ini Cina lebih maju selangkah dari Australia yang selalu merecoki RI dengan Isue HAM dan lain lain, sehingga Austarlia sulit diterima oleh pemerintah Indonesia.

AS setelah perang dingin usai, lebih focus ke timur tengah ketimbang Asia  dan Afrika, padahal masa depan dunia ada di Asia. Karena Asia memiliki pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi di dunia. Selain itu penduduk terbesar di dunia ada di Asia, sehingga potensi SDM dan pasar dunia ada di Asia. Abainya Amerika baru disadari oleh Trump ketika, ketergantungan AS dari Cina sudah semakin besar, sehingga perang dagang seperti tarik ulur ynag dilakukan Trump, untuk “westing time”, sambil menunggu kesiapan AS, lepas dari ketergantunagn dengan Cina.

Akhirnya jika Indonesia pecah, maka dapat dipastikan Cina bisa mengendalikan Indonesia.  Karena Negara sebesar AS aja, sulit melepaskan ketergantunagn dari cina, apalagi Negara lemah….Oleh karena itu Indonesia harus kuat dan mandiri agar bisa menjadi pemain utama, minimal di Asean. Bukan menjadi pemain yang dipermainkan, oleh Negara besar.

[Oleh: Helmi adam. Penulis adalah Alumni Nakasone Program, Japan International Cooperation Agency (JICA)]  
 


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.