Bendera tauhid, bendera Rasulullah yang dibakar para oknum intelektual Garut.
Kamis | 25 Oktober 2018 | 17.25 WIB

SIAPA SEBENARNYA orang yang membakar bendera tauhid, bendera Rasulullah, di Garut? Ini dulu yang harus kita cari jawabannya. Agar tidak keliru mengarahkan reaksi keras dan kemarahan terhadap perbuatan tercela itu.

Kalau kita simak rekaman video pembakaran itu, telihat jelas bahwa mereka adalah anak-anak muda yang, saya duga, tidak paham sama sekali apa itu kalimat tauhid. Mereka juga tak paham bagaimana cara untuk menunjukkan “kebencian” kepada HTI.

Artinya, anak-anak yang membakar itu hanyalah “boneka-boneka” yang dikumpulkan dan dipergunakan oleh oknum-oknum intelektual Banser yang sedang mencari perhatian. Yaitu, oknum-oknum yang pintar mencari penghidupan dari konstelasi politik yang ada ini. Orang-orang pinter ini menggunakan isu HTI untuk tetap menghidupkan narasi yang menakutkan bahwa Indonesia sedang dipecah-belah oleh gerakan khilafah dan gerakan negara syariat.

Salah satu cara untuk tetap mengapungkan (tetap mem-floating) narasi yang menakutkan itu ialah dengan menunjukkan kebencian kepada HTI. Dilampiaskanlah lewat ritual pembakaran bendera tauhid yang mereka anggap sebagai representasi HTI. Dibakar sambil menyanyikan lagu mars perjuangan.

Nah, di sinilah kebodohan para oknum intelektual Banser yang mengendalikan ormas ini. Mereka seharusnya tidak menyuruh anak-anak muda itu membakar kalimat tauhid. Carilah simbol-simbol HTI yang lain, misalnya foto para pemimpin mereka. Kalau foto para pemimpin HTI yang dibakar, risikonya bisa dikatakan nol.

Konyol sekali mereka membakar kalimat tauhid. Tak mungkin rasanya para oknum intelektual ini tak paham bagaimana kaum muslimin memposisikan kalimat tauhid. Tak mungkin rasanya mereka tidak mengerti keagungan kalimat tauhid.

Yang mungkin adalah bahwa mereka ini wajib “mengejar storan” kepada investor pemegang saham Banser. Para investor itu berkepentingan untuk mengimbangi gerakan “grassroot” umat yang kini semakin masif melawan penguasa dzolim. Malangnya nasib, sekarang ini para oknum intelektual Banser “kehabisan bahan” untuk diolah. Akhirnya, digoreng lagilah HTI.

Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan sebagai “headline story” –berita besar. Persekusi, dikecam. Pembubaran pengajian, dikutuk. Kedua macam proyek ini mendapatkan reaksi keras dari seluruh masyarakat. Para petinggi NU pun ikut berlepas diri dan mengecam persekusi serta pembubaran pengajian.

Sekarang, pembakaran kalimat tauhid itu disebut oleh para ulama sebagai penghinaan terhadap Islam. Aspek ini haruslah ditangani serius oleh pihak penegak hukum. Dalam 24 jam ini muncul alasan mengapa anak-anak muda Banser membakar kalimat tauhid di atas kain hitam itu.

Mereka berkilah bahwa kalimat tauhid itu dibakar sebagai bentuk penghormatan agar tidak sampai jatuh ke tanah. Tetapi, alasan ini cukup sinetronik. Sebab, mereka membakar kalimat tauhid itu sambil menyanyikan mars perjuangan dan mengepalkan tinju. Seolah-olah sedang membakar musuh.

Begitukan cara menghormati kalimat tauhid?

Oleh : Asyari Usman. Penulis adalah wartawan senior


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.