Zein Susilo, SH : Pelayanan Sang Advokat Multi Profesi

Zein Susilo, SH : Pelayanan Sang Advokat Multi Profesi
zein
Selasa | 25 Oktober 2016 | 11.10 WIB

Hallo.id, Jakarta – Awalnya adalah hasrat, untuk menjadi dan berarti. Dari dunia akuntansi, kemudian menjalani keahliannya sebagai konsultan pajak, ia lalu merambah dunia advokat, sebuah dunia yang kini sangat ia cintai. Ia membawa warna sendiri.

Advokat Zein Susilo, sebenarnya adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Tarumangara jurusan akuntansi, yang berprofesi awal sebagai auditor dengan pengalaman kerja beberapa kantor besar akuntan publik dan konsultan bisnis internasional. Dia cakap dan ahli di bidang perpajakan.

Hasrat untuk terus maju membuat Zein kemudian memutuskan mendalami bidang hukum. Ia lalu menempuh pendidikan Fakultas Hukum di Universitas Satyagama. Sambil kuliah, ayah dua anak ini magang di Law Firm Muhammad Herman, SH.

Ia mengakui bahwa di kantor hukum inilah ia memperoleh banyak ilmu. Seiring waktu, ia pun sering mengikuti berbagai kasus yang ditangani kantornya, dan semakin memahami kondisi lapangan dengan segala dinamikanya.
Usai tamat kuliah hukum pada 2011, dan setelah sekian waktu belajar di kantor Muhammad Herman, akhirnya Zein membuka law firm sendiri.

Diakuinya, ia memang lebih suka menangani kasus-kasus corporate yang mengarah ke bidang keuangan. “Lebih menarik, karena masuk ke bidang saya, akuntan dan pajak,” ujarnya.
Sebagai advokat, ia mencoba memiliki ‘warna’ dan ciri khas tersendiri agar gampang dikenal. Zein tak ingin terbawa arus. “Selain sebagai advokat, konsultan pajak, saya juga pengusaha. Nah, ini yang membuat saya berbeda,”jelas dia.

Kalau advokat lain memiliki ciri fisik, misalnya almarhum Adnan Buyung Nasution yang gampang dikenali karena chiri khas pada rambutnya, Zein lebih ingin dikenal bukan dari segi fisik tapi dari sisi profesionalisme.

Zein ingin suatu saat nanti ia dikenal sebagai advokat yang memiliki spesialisasi di bidang ekonomi, karena menurutnya, orang lebih cenderung mengingat advokat yang memiliki perkara yang berhubungan dengan ekonomi.

Ketika karirnya sedang cemerlang sebagai akuntan, Zein sadar bahwa kehidupan tidak selalu berada ‘di atas’. Zein berharap dia memiliki dua pilihan: bertahan atau naik. Ia pun memikirkan caranya, bila hanya bekerja dengan orang lain, menjadi karyawan, Zein sadar ada batasnya. Inilah sebenarnya alasan ia kemudian memutuskan menjadi advokat.

Oleh karenanya, meski sudah jadi advokat, hingga sekarang Zein tidak melepaskan profesinya sebagai konsultan pajak. “Saya memilih spesialis bukan generalis. Jadi ilmu saya masih dipakai terus,” ucapnya.

Sehubungan dengan Tax Amnesty (TA), Zein berpendapat bahwa program tersebut sangat tepat. Dengan TA, nilai tukar rupiah langsung melejit, pemerintah pun terbantu dalam pendanaan pembangunan, karena pemasukann TA periode pertama saja nyaris menembus angka Rp. 100 triliun.

“Dana tersebut sangat penting untuk menutup defisit APBN. Saya optimistis bahwa dengan TA ini, ekonomi kita akan bergerak lebih cepat. Sektor riil akan jalan, perputaran roda ekonomi akan terasa dari masyarakat kecil hingga kalangan atas,” ujar dia.

Dampak lain adalah munculnya puluhan ribu wajib pajak baru yang tentu sangat membantu perekonomian Indonesia. “Hanya saja, saya menganjurkan untuk para orang kaya yang menyimnpan dana di luar negeri untuk segera melakukan repatriasi dana,” ujarnya samabil menambahkan bahwa dana yang masuk masih sangat minim dari perkiraan dana sebanyak ribuan triliun yang diparkir di luar negeri.

Untuk ke depan, masyarakat harus semakin sadar pajak, karena sumber dana pembangunan adalah pendapatan pajak yang dipungut Negara dari warganya. “Dengan taat membayar, kita ikut mendorong bangsa ini semakin maju menjadi bangsa modern,” ujar Zein.

Jalani Dua Peran Berbeda

Zein berkisah, saat pertama kali membuka kantor hukum, kasus yang diterima adalah masalah perdata, mengenai perebutan dan penggelapan saham oleh direktur perusahaan terhadap komisaris perusahaan.

Sebelumnya, klien tersebut sudah mendatangi banyak kantor advokat, namun akhirnya ia percayakan kasus itu kepada Zein. Ia tak menjanjikan apapun, dan hanya memaparkan apa yang seharusnya dilakukan, menurut cara dia. Kasus itu akhirnya dimenangkan.

Rahasianya? Zein meminta dilakukan audit untuk membuktikan adanya penggelapan. Nah, ketika diaudit itulah ditemukan bukti-bukti yang memperkuat posisi kliennya. Setelah itu barulah kasus itu diarahkan ke ranah pidana dan masalah penggelapannya masuk ke perdata.

“Jadi ketika minta pembuktian, saya tidak langsung mengklaim bhawa orang itu korupsi. Saya buktikan dulu melalui bidang keuangan akuntansi, bahwa ada penggelapan di situ, dan terbukti. Kalau ada bukti orang tidak bisa lagi mengelak,” jelas dia.

Sebagai advokat yang berlatarbelakang konsultan pajak, Zein Susilo memiliki keunggulan tersendiri bila ia menangani kasus-kasus corporate yang berhubungan dengan pajak.

Sebenarnya, sebelum menekuni pajak, Zein berprofesi sebagai akuntan publik (1996-2001). Sejak 2008 ia mulai memiliki keinginan menekuni dunia advokat. Pemicunya, perubahan peraturan yang menyatakan pada saat seseorang jadi tersangka pelanggaran Undang-undang Pajak, ia hanya bisa diampingi advokat, bukan konsultan pajak.

Menurut Zein, peraturan atau hukum itu memiliki kesamaan dalam satu hal: tergantung sudut pandang seseorang “Dunia pajak dan advokat sama-sama gelap” ungkap Zein. Bila seseorang diminta untuk berpendapat dan memandang dari sisi yang berbeda, maka pendapatnya bisa berbeda pula.

Namun diakui Zein, ada perbedaan mencolok dalam praktek dunia advokat dan konsultan pajak. Salah satunya, cara menghadapi dan berkomunikasi dengan klien. Ia berkisah, sejak 1995 saat bekerja bekerja di kantor akuntan besar, Zein tidak berhubungan dengan kalangan ‘bawah’, tapi selalu berhubungan dengan kalangan pengusaha.

“Sepatu saya tak pernah berdebu. Saya selalu berdasi. Fasilitas yang tersedia selalu business class atau hotel bintang lima,” ucapnya. Ini berbeda ketika jadi advokat. Ia tidak hanya bertemu kalangan ‘atas’. Ia harus belajar menghadapi hal tersebut. Perjalanan waktu membuat Zein terbiasa memerankan dua karakter berbeda, sebagai advokat dan konsultan pajak.

Berempati

Zein mengaku tak terlalu mengalami kesulitan ketika terjun sebagai advokat, karena sudah belajar banyak ketika magang. Ia selalu mengandalkan dan mengedepankan ilmu pembuktian.

Selain itu, pengalamannya di Posbakum ikut melatih nuraninya untuk berempati terhadap kasus-kasus ‘kelas bawah’. Ia juga banyak mengenal teman-teman satu profesi, yang kemudian hari jadi teman baik. Ia juga banyak belajar dari para advokat yang telah lama beracara, karena menurutnya apa yang ada di kertas berbeda kondisinya bila sudah di lapangan.

Setelah membuka kantor sendiri, prinsip untuk membantu orang-orang tidak mampu seperti yang ia lakukan ketika di Posbakum tidak pernah pupus. Ia berkomitmen menyisihkan sepertiga waktunya untuk kasus-kasus pro bono.

Banyak pengalaman yang tak perlupakan oleh Zein ketika ia harus berhubungan dengan masyarakat kecil. Pernah, sebagai tanda terima kasih atas kasus yang sudah ditanganinya, ia dihadiahi empat ekor ayam.

Ia berkisah, pada suatu ketika, ia pernah menangani kasus seorang sopir yang menabrak korbannya hingga meninggal. Karena menghindar jalur hokum, sang sopir sampai harus menjual rumahnya untuk menyantuni keluarga korban, namun keluarga korban terus menuntut hingga sang sopir tak punya apa-apa lagi.

Ketika Zein menangani kasus tersebut, ia menyarankan agar si sopir menjalani jalur hukum.”Toh nanti ada hakim yang menilai. Pada saat persidangan, kita paparkan semua fakta. Akhirnya sang sopir kena hukuman dua tahun. Daripada diperas terus, lebih baik seperti itu, kan?” tegas Zein.

Doa Ibu

Zein adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya merupakan pensiunan perusahaan swasta. Dari kecil ia memiliki keinginan bisa bermanfaat buat orang lain. Seperti kebanyakan anak yang kemudian bertumbuh sukses, peran orangtua menjadi faktor kunci.

Menurutnya orang yang paling berpengaruh dalam keberhasilannya adalah sosok ibunya. “Doa ibu yang menjadikan saya yang Anda lihat hari ini,” ucapnya. Hingga sekarang, bila memiliki masalah, ia selalu menceritakan pada ibunya.

Walau mungkin masalah yang dihadapinya tidak dimengerti sang ibu, namun doa yang selalu diucapkannya bagaikan air es yang disiramkan pada cuaca panas. Sang Bunda selalu berjanji untuk mendoakannya agar keluar dari masalah. “Lucunya, kalau ketemu orang tua, tetap saya dianggap anak kecil, tetap diomeli,” ujarnya dalam tawa.

Membisniskan Hobi

Zein saat ini dikenal juga sebagai pengusaha. Beberapa dari usahanya tersebut pada awalnya berangkat dari hobi, misalnya otomotif. Ia memang menyukai dan tahu banyak tentang otomotif, meski bukan ahli. Nah, dari hobinya ini ia kemudian mengenal banyak montir handal yang kemudian ia rangkul untuk membuka bengkel.

Sebelum bisnis bengkel, Zein sudah lebih dulu membangun perusahaan akrilik yang membuat beragam jenis hiasan, cinderamata ataupun asesoris yang banyak dipesan perusahaan-perusahaan besar.

Diakuinya, perusahaannya berkembang, juga karena ia suka bergaul dan berorganisasi. Saat ini ia tercatat menjadi anggota dari beberapa perkumpulan, baik itu perkumpulan profesi maupun hobi, seperti club mobil dan motor besar.

Tak heran, ia memiliki banyak teman dan relasi dari berbagai kalangan, dari aparat negara, advokat, konsultan dan dari kalangan lainnya.

Dengan bergabung dalam berbagai club otomotif, Zein tidak hanya memperoleh banyak teman, tapi juga bermanfaat untuk berbagai bisnisnya. Ia jadi mengetahui trend dan keinginan konsumen. Iapun memperoleh klien-klien baru dari perkumpulan yang ia masuki. “Sebagai orang yang berbisnis di otomotif, saya harus meng-update apa saja perkembangan terakhir, dan salah satunya dari informasi teman-teman satu club,” tuturnya.

Uniknya, meski suka otomotif, Zein mengaku sekarang tak pernah nyetir dan naik motor besarnya lagi. Pasalnya, sang istri melarangnya menggunakan motor besar dan menyetir mobil . Semua ini, karena Zein pernah mengalami kecelakaan jatuh dari motor besarnya. Sejak itu, Zein menepati janjinya kepada istri untuk tidak mengendarai sendiri kendaraannya.

Dengan begitu banyaknya profesi dan aktivitas lainnya, diakuinya ia pernah mendapat protes dari istri dan anak-anaknya. Tapi karena Zein selalu terbuka tentang apa saja aktivitas di luar rumah, keluarganya pun dapat memahami. “Istri saya harus siap mental, karena ini dunia saya. Tak mungkin saya tinggalkan. Saya bangun semua ini dari nol,” tuturnya.

Terlepas dari semua itu, Zein adalah sosok ayah yang dekat dengan keluarga. Sang istri yang ia kenal saat kuliah pun ikut memahami. Setiap hari Minggu ia selalu menyempatkan diri meluangkan waktu bersama istri dan dua buah hati mereka yang kini berusia delapan dan enam tahun.

Kolam ikan dan kebun kecil di rumahnya yang besar dan asri di kawasan Serpong menjadi tempat ia menghabiskan waktu libur bersama keluarga. Ditambah beberapa ekor anjing lucu yang ikut menemani, lengkaplah kebahagiaan keluarga Zein. (Dede)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.