by

Apa dan Siapa Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Pajajaran yang Termashur

-Budaya-6,153 views

Hallo.id, Bogor – Selama ini kita sangat familiar dengan nama Prabu Siliwangi. Namun demikian ada beberapa hal yang jarang dibahas mengenai Prabu Siliwangi. Berikut ini adalah beberapa hal yang jarang diketahui mengenai Prabu Siliwangi.

1. Siliwangi Hanyalah Gelar

Di Tatar Pasundan, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun.

Baca juga : Asal Mula Nama Pakuan Pajajaran, yang Dipimpin Prabu Siliwangi

Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan.

Baca juga : Fakta dan Cerita Seputar Prabu Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran

Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Niskala Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda).

Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda.

Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira”.

Artinya: : “Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.”

2. Arti Nama Siliwangi

Nama Siliwangi adalah berasal dari kata “Silih” dan “Wawangi”, artinya sebagai pengganti Prabu Wangi.

Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):

“Di medan perang Bubat, ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.

Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.

Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Tatar Sunda. Kemasyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain.

Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Tatar Sunda.

Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda”.

3. Prabu Siliwangi ada 8

Prabu Siliwangi adalah gelar untuk raja-raja Sunda. Ada delapan raja Sunda yang menyandang gelar itu. Prof. Dr. Ayatrohaedi, arkeolog, ahli bahasa, peneliti sejarah Sunda, dan guru besar arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, punya pendapat berbeda mengenai jati diri Prabu Siliwangi.

Dia juga meluruskan bahwa nama kerajaan yang benar adalah Sunda sedangkan Pajajaran, lengkapnya Pakwan Pajajaran, adalah ibukotanya.

Dalam kaitannya dengan tokoh Prabu Siliwangi, naskah itu bagi Ayatrohaedi merupakan pembuka jalan untuk memasuki kegelapan mengenai tokoh itu,” kata Ayat dalam memoarnya, 65=67: Catatan Acak-acakan dan Cacatan Apa Adanya.

Menurut naskah itu, kata Ayat, sebenarnya tidak ada raja Sunda bernama Prabu Siliwangi. Nama itu hanyalah julukan bagi raja-raja Sunda yang menggantian Prabu Wangi yang gugur di Bubat.

Prabu Wangi sendiri nama sebenarnya adalah Prabu Linggabhuwana atau dalam Carita Parahiyangan disebut Prabu Maharaja.

Ada berapa raja Sunda yang menggantikan Prabu Wangi? Menurut Ayat, Naskah Wangsakerta dan Carita Parahiyangan mencatat jumlah yang sama, yaitu delapan raja.

“Di sinilah aku berbeda paham dengan sejawat peneliti sejarah Sunda. Mereka hanya mengakui Sri Baduga Maharaja (1482–1521) sebagai Prabu Siliwangi, sementara aku mengakui ada delapan orang raja berjuluk Prabu Siliwangi. Sama dengan kepercayaan orang Jawa yang menganggap bahwa ada lima raja bernama Prabu Brawijaya,” kata Ayat.

Berikut Nama raja-raja Sunda-Galuh (Pajajaran)

  1. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350–1357)
  2. Prabu Bunisora, Adik Linggabuanawisesa (1357–1371)
  3. Prabu Niskala Wastu Kancana putra Linggabuanawisesa (1371–1475)
  4. Prabu Susuktunggal (1475–1482) sebagai Raja Sunda saja, karena sepeninggal Prabu Niskala Wastu Kancana kerajaan dipecah dua di antara Prabu Susuktunggal dan Prabu Dewa Niskala dalam kedudukan sederajat.
  5. Jayadéwata Sri Baduga Maharaja putra Dewa Niskala, 1482–1521)
  6. Prabu Surawisésa (1521–1535)
  7. Prabu Déwatabuanawisésa (1535–1543)
  8. Prabu Sakti (1543–1551)
  9. Prabu Nilakéndra (1551–1567)
  10. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567–1579)

Prabu Maharaja Linggabuanawisesa disebut “Prabu Wangi” penganti berikutnya disebut “Pengganti (prabu) Wangi” atau “Siliwangi”.

Namun menurut Ayatrohaedi, Prabu Bunisora Suradipati (adik prabu wangi) tidak disebut Siliwangi karena hanya sebagai “Ratu Panyelang” atau “Raja penyelang”.

Jadi Prabu Siliwangi dihitung sejak Niskala Wastu Kancana (putra Prabu Wangi), maka urutannya seperti di bawah ini.

  1. Prabu Niskala Wastu Kancana (1371–1475) sebagai “Siliwangi I”
  2. Prabu Dewa Niskala (1475–1482) sebagai “Siliwangi II”
  3. Jayadéwata Sri Baduga Maharaja putra Dewa Niskala, 1482–1521) sebagai Siliwangi III”
  4. Prabu Surawisésa (1521–1535) sebagai “Siliwangi IV”
  5. Prabu Déwatabuanawisésa (1535–1543) sebagai “Siliwangi V”
  6. Prabu Sakti (1543–1551) sebagai “Siliwangi VI”
  7. Prabu Nilakéndra (1551–1567) sebagai Siliwangi VII”
  8. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567–1579) sebagai Siliwangi VIII”

Dengan melihat pemaparan urutan raja-raja Sunda Pajajaran yang bergelar Siliwangi di atas, rupanya Ayatrohaedi mengacu pada Nasab raja secara garis laki-laki ke Prabu Linggabuanawisesa.

Oleh karena itu, adik prabu Linggabuana yaitu Bunisora Suradipati tidak dihitung Siliwangi karena bukan keturunannya. Maka Ayatrohaedi menganggap bahwa Siliwangi pertama adalah Wastu Kancana putra Prabu Linggabuana.

Namun putra Niskala Wastu Kancana ada 2 orang yang menjadi raja yaitu: Dewa Niskala dan Susuk Tunggal.

Ada yang unik mengenai posisi Prabu Susuk Tunggal (Raja Sunda), oleh Ayatroaedi tidak disebut sebagai “Siliwangi”. Tetapi ayah dari Jayadewata atau Sribaduga yaitu Dewa Niskala disebut “Siliwangi”.

Apakah karena Prabu Susuktunggal tidak punya anak laki-laki? Tidak juga! Prabu Amuk Murugul adalah putra Prabu Susuk Tunggal dan adik dari kentring Manik Mayangsunda.

Selanjutnya prabu Amuk Murugul menjadi raja kerajaan Japura, bawahan Pajajaran. Karena Kentring Manik Mayangsunda menikah dengan Sribaduga, maka posisi raja Sunda dipegang oleh menantu Prabu Susuk Tunggal itu.

Dengan demikian, penghitungan Ayatrohedi disandarkan pada posisi para raja Pajajaran yang berkuasa di Sunda-Galuh (Selanjutnya disebut Kerajaan Sunda saja atau Pajajaran), bukan berdasarkan nasab saja.

Namun ada beberapa budayawan menganggap bahwa Prabu Bunisora Suradipati (adik Maharaja Linggabuanawisesa yang gugur di Bubat termasuk “Siliwangi”.

Jadi Prabu Bunisora dihitung sebagai “Siliwangi I” . Selanjutnya gelar Siliwangi dengan nomor urut seperti disampaikan Ayatrohaedi. Jadi Raja Sunda Pajajaran dengan gelar Siliwangi ada 9 orang.

Ada lagi pendapat masyarakat yang menyebut raja-raja di kerajaan bawahan Pajajaran pun disebut Siliwangi. Bahkan ada yang menyebutkan raja-raja abad ke-9 pun sudah disebut Siiwangi. Meskipun penyebutan prabu Siliwangi sebelum Prabu Linggabuana sebenarnya tidak memiliki dasar.

4. Prabu Siliwangi Orang Galuh

Prabu Siliwangi yang paling dikenal adalah Jaya Dewata atau Sribaduga Maharaja. Ia dilahirkan pada tahun 1401 M di Galuh, ayahnya merupakan Raja dari Kerjaan Galuh yang bernama Prabu Dewa Niskala putra Mahaprabu Niskala Westu Kencana.

Waktu mudanya Sri Baduga atau Prabu Jayadewata terkenal sebagai pengembara ksatria pemberani dan tangkas. Istri pertamanya, Nyi Ambetkasih putri pamannya, Ki Gedeng Sindangkasih putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana dari Kerajaan Surantaka ibu kotanya Desa Kedaton sekarang di Kecamatan Kapetakan Cirebon, penguasa di Pelabuhan Muarajati Cirebon berbatasan langsung dengan Kerajaan Sing Apura. Saat Wafat digantikan menantunya, Prabu Jayadewata.

Dalam berbagai hal, orang sezamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat tahun 1357 yang digelari Prabu Wangi.

Bahkan satu-satunya saat menyamar dengan nama Keukeumbingan Rajasunu yang pernah mengalahkan Ratu Kerajaan Japura Prabu Amuk Murugul putra Prabu Susuktunggal putra Mahaprabu Niskala Wastu Kancana waktu bersaing memperebutkan Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa/ Giridewata atau Ki Gedeng Jumajan Jati, penguasa Kerajaan Sing Apura putra Ki Gedeng Kasmaya, Penguasa Cirebon Girang putra Prabu Bunisora (Adik Mahaprabu Niskala Wastu Kancana), (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam) dari Kerajaan Sing Apura berbatasan dengan Kerajaan Surantaka.

Dari pernikahannya dengan Nyai Subanglarang melahirkan Raden Walangsungsang atau Cakrabuwana, Nyimas Rara Santang dan Raden Kian Santang.

Istri ketiga Sribaduga adalah Nyai Kentring Manik Mayangsunda putri Raja Sunda Prabu Susuktunggal yang sekaligus uwa Sribaduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal adalah putra Niskala Wastukancana).

Dari mertuanya inilah Jayadewata mewarisi Kerajaan Sunda dan karena bergelar Sribaduga Maharaja. Secara otomatis Prabu Siliwangi menjadi Raja dari dua kerajaan Pusat yang berbeda, yaitu Kerajaan Galuh dan Sunda.

5. Tanda tangan Prabu Siliwangi

Sribaduga Maharaja memiliki putra dari Nyai Kentringmanik Mayangsunda bernama Surawisesa. Sedangkan nama nobatnya “Ratu Sanghyang Surawisesa Jayengrana”. Karena berbeda pelafalan, Portugis menyebut Prabu Surawisesa, Raja Sanghiyang dengan “Raja Samiam”.

Nagara Kretabhumi I/2 dan sumber Portugis mengisahkan bahwa Surawisesa pernah diutus ayahnya menghubungi Alfonso d’Albuquerque (Laksamana Bungker) di Malaka. Ia pergi ke Malaka dua kali (1512 dan 1521).

Hasil kunjungan pertama adalah kunjungan penjajakan pihak Portugis pada tahun 1513 yang diikuti oleh Tome Pires, sedangkan hasil kunjungan yang kedua adalah kedatangan utusan Portugis yang dipimpin oleh Hendrik de Leme (ipar Alfonso) ke Ibukota Pakuan Pajajaran atau disingkat Pakuan atau Pajajaran (sekarang kota Bogor) pada tahun 1522.

Dalam kunjungan itu disepakati persetujuan antara Kerajaan Sunda dan Portugis mengenai perdagangan dan keamanan.

Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu) Menurut Soekanto (1956) perjanjian itu ditandatangai 21 Agustus 1522.

Ten Dam menganggap bahwa perjanjian itu hanya lisan. Namun, sumber Portugis yang kemudian dikutip Hageman menyebutkan “Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield”.

Maka pada tanggal 21 Agustus 1522 dibuatlah suatu perjanjian yang menyebutkan bahwa orang Portugis akan membuat loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng) di Sunda Kelapa, sedangkan Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan.

Raja Sunda akan memberikan kepada orang-orang Portugis 1.000 keranjang lada tiap tahun untuk ditukarkan dengan muatan sebanyak dua “costumodos” (kurang lebih 351 kuintal) sebagai tanda persahabatan.

Sebuah batu peringatan atau padraõ dibuat untuk memperingati peristiwa itu. Padrao dimaksud disebut sebagai layang salaka domas dalam cerita rakya Sunda Mundinglaya Dikusumah. Padraõ itu ditemukan kembali pada tahun 1918 di sudut Prinsenstraat (Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Nelayan Timur) di Jakarta.

6. Pakaian Kebesaran Maharaja Sunda

Ada banyak lukisan mengenai sosok Prabu Siliwangi dan yang terutama menggambarkan sosok Jayadewata atau Sribaduga Maharaja.

Ada yang melukiskannya menggunakan pakaian Jawara dan adapula yang menggambarkan menggunakan baju seperti budaya Jawa.

Dan secara umum lukisan prabu siliwangi tak pernah lepas dari senjata khas Sunda yaitu kujang. Lalu seperti apa sebenarnya? Kita tidak mengetahui persis.

Mengutip dari Naskah lontar Sanghyang Sasana Mahaguru, ada gambaran mengenai pakaian kebesaran raja sebagai berikut:

Nihan upadyanta: kadyangganing kadatwan mesi mas manik dwadwat muliya raja ywagya, tuhu mulya ika kabeh, nihan ri hana sang hya(ng) bayu sabda hdep. Nihan ajnana ri sariranta.

Artinya : Inilah perumpamaannya, ibarat keraton yang berisi emas, permata, dan dodot kemuliaan dari raja yang agung. Semua taat mulia. Inilah maksud adanya kesucian dari bayu, sabda, dan hedap. Inilah pengetahuan untuk dirimu.

Pakaian dodot menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pakaian adat Jawa dari kain batik atau cindai panjang dan lebar, dipakai pada upacara resmi (oleh pengantin dan sebagainya).

Dengan demikian dodot adalah pakaian jubah berjuntai. Penampilan raja-raja Pajajaran saat itu tentunya menggunakan jubah kebesaran yang lebar dan panjang berjuntai ke lantai, terutama ketika saat pelatikannya sebagai raja.

7. Prabu Siliwangi Masih Ada

Istilah ini, penulis gunakan sebagai maksud bahwa masih ada hingga hari ini keturunan Prabu Siliwangi.

Jika mengikuti kebiasaan umum di masyarakat (common sense) bahwa nasab (garis geneologi) berdasarkan garis ayah, maka para keturunannya hingga hari ini berhak menyebut Siliwangi.

Meskipun tidak lagi memiliki kekuatan politik kenergaraan, gelar Siliwangi dapt digunakan oleh para keturunannya (seuweu-siwi), baik dari Garwa Padmi (Permaisuri) maupun garwa Ampii (Selir).

Fakta bahwa kita sering mendapati nama-nama seseorang di media sosial menggunakan “nickname” Siliwangi yang diikuti dengan nomor urut dalam angka Romawi. Misalnya Prabu Siliwangi XIII, Prabu Siliwangi XXII dan lain sebagainya.

Hal ini ada baiknya sebagai pengingat leluhur sendiri. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Dan.. leluhur kita sendiri, siapapun Anda dan leluhur Anda adalah : pahlawan” bagi anda dan keluarga anda. Kita ingat dengan Amanat Galunggung: Ada dahulu ada sekarang, tak ada dahulu, maka tak ada sekarang.

8. Terkait Metafisika

Ada banyak media sosial seperti Youtube atau pun Video Facebook menampilkan prosesi mediumisasi dengan “memanggil” sosok “Prabu Siliwangi”.

Penampilan video biasanya berupa kesurupan (trance) oleh “arwah” Prabu Siliwangi. Ada banyak hal yang disampaikan dan informasi yang diberikan oleh “sosok” itu melalui seorang medium.

Namun tak jarang informasi yang satu dengan lainnya kerapkali terdapat perbedaan. mengapa demikian? Adakah yang salah dengan sosok Prabu Siliwangi?

Bila kita kembali mencermati pembahasan di atas, maka fenomena seperti ini dapat kita pahami. Ada banyak raja-raja Sunda dan Galuh (Pajajaran) bahkan raja-raja daerah yang menyandang gelar “Siliwangi”.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika proses mediumisasi ada perbedaan informasi, penyebabnya karena “sosol Prabu Siliwangi” yang “hadir” itu merupakan sosok berbeda pula. Demikianlah, seperti dikutip dari Medium.com (*)

Oleh : Raden Tama F. Larasantang, penulis

Napak Tilas Leluhur : Punya kisah dan cerita seputar sejarah raja-raja dan kepemimpinan nusantara di masa silam? Atau ingin meluruskan sejarah — jika ada koreksi? Atau punya versi lain, karena bisa jadi cerita berasal dari mulut ke mulut secara turun-temurun? Tulis dan kirimkan kepada redaksi atau hubungi whatsApp kami. Terima kasih.