by

Inilah Negeri yang Akan Membawa Kejayaan Islam di Akhir Zaman?

-Budaya-2,170 views

Hallo.id – Sebuah kitab yang dinisbatkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra dengan judul “Al-Jifr A’zham” yang memuat pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman yang diperolehnya dari Baginda Rasulullah saw, menyebutkan adanya sebuah negeri yang akan membawa Kejayaan Islam di akhir zaman bernama NEGERI AL-YABAN, yang disebutkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mayoritas penduduk negeri itu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
  2. Penduduk negeri itu berasal dari golongan ‘Ajam yakni orang-orang non Arab.
  3. Penduduk negeri itu baik-baik dan banyak yang dapat membaca Al-Quran.
  4. Negeri itu memiliki tanah yang sangat luas dan banyak orang yang hijrah (berpindah) ke negeri itu.
  5. Negeri itu memiliki pulau yang jumlahnya lebih dari ratusan dan di negeri itu tinggal keturunan-keturunan Rasulullah (para habib dan sayyid).
  6. Negeri itu banyak dinaungi oleh gunung-gunung yang besar dan di negeri itu sering terjadi gempa.
  7. Negeri itu menjalin hubungan luar negeri dengan negeri-negeri yang ada di sekitarnya, yakni Negeri CHINA yang berada di Timur Jauh dan Negeri yang berada di belakang Laut Kuning yang namanya sesuai dengan nama rajanya yang dahulu, yang bernama KOREO (maksudnya Negeri KOREA).
  8. Di akhir zaman, negeri ini akan menjadi Jaya (mencapai puncak kejayaannya), dimana semua pulau-pulau yang dimilikinya akan dibuka dan terbuka pada masa Imam Mahdi dan Nabi Isa as.

Dan Negeri yang memiliki delapan ciri-ciri di atas disebut dalam Kitab Al-Jifr A’zham dengan nama AL-YABAN, yang diterjemahkan dengan keliru ke dalam Bahasa Indonesia sebagai NEGERI JEPANG. Padahal jika kita mencermati kedelapan ciri-ciri yang disebutkan di atas, maka ciri-ciri tersebut jelas-jelas merujuk kepada ciri-ciri yang dimiliki oleh INDONESIA dan bukan JEPANG.

Nah pertanyaannya adalah mengapa kata AL-YABAN dalam Kitab Al-Jifr A’zham tersebut bisa diterjemahkan sebagai NEGERI JEPANG?

Jawabnya karena kata AL-YABAN merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, sebagaimana nama SWARNADVIPA (nama Pulau Sumatera dalam Bahasa Sansekerta) diucapkan dalam lisan orang arab sebagai SUWARANDIB. Dan bukan sebuah kebetulan pula jika dalam Peta Kuno PULAU JAWA versi Belanda terdapat daerah yang bernama DJAPAN yang mirip dengan JEPANG.

DR. Menachem Ali dalam bukunya yang berjudul “Aryo-Semitic Philology: the Semitization of Vedas and Sanskrit Elements in Hebrew and Abrahamic Texts” menyebutkan bahwa kata YAVAN merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” yang kemudian mengalami proses transliterasi menjadi “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA.

Sehingga sampai disini, kita menjadi paham bahwa ternyata NEGERI AL-YABAN yang merupakan pelafalan dari kata AL-YAVAN dalam lisan orang Arab, yang disebutkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib ra dalam Kitabnya yang berjudul Al-Jifr A’zham sebagai Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, merujuk kepada NEGERI NUSANTARA dimana PULAU JAWA menjadi bagian darinya.

Dalam buku yang berjudul “Java: Past & Present A Description of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products”, yang ditulis oleh Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915 Masehi, disebutkan sbb,

“Javana or Yavana, or abridged Java, was also the name given only to Sumatra, but also to portions of Borneo and of the Malay Peninsula (probably Pahang) besides the whole of Indo-China.”

Terjemahan:
“JAVANA atau YAVANA, atau seringkali hanya disebut sebagai JAVA, adalah nama yang diberikan tidak hanya untuk Pulau Sumatera, tetapi juga untuk sebagian Pulau Borneo (Kalimantan) dan Semenanjung Malaysia (mungkin Pahang), disamping itu juga mencakup seluruh kepulauan Indo-China.”

Jadi jelas adanya bahwa yang dimaksud dengan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sesungguhnya merujuk kepada wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China.

Teritori wilayah Nusantara inilah yang pada masa penyebaran Islam oleh Syekh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), Syekh Maulana Ishaq (ayahanda Sunan Giri), dan Sunan Ampel (ayahanda Sunan Bonang) sebagai generasi pertama Wali Songo disebut sebagai “JAWI” yang merujuk kepada wilayah Nusantara yang mencakup Malaka (Malaysia), Pasai (Aceh) dan Ampeldenta (Surabaya).

Baru kemudian pada masa Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri lah teritori “JAWI” ini meluas hingga wilayah Nusantara yang mencakup Aceh, Minangkabau, Palembang, Banjar (Kalimantan), Lombok (NTB), Timor (NTT), Makassar (Sulawesi) hingga Ambon (Maluku). Jangkauan teritori ini merupakan wilayah penyebaran Islam oleh Sunan Giri dan murid-muridnya, dimana keseluruhan teritori itu semua kemudian disebut sebagai “JAWI”.

Penyebutan YAVANA atau YAVAN atau AL-YAVAN sebagai wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China dengan sebutan JAWI oleh Wali Songo ini tentunya bukan tanpa dasar.

Perhatikan ini …

Dalam buku “Historis of The Cultivated of Vegetables: Comprising Their Botanical, Medical, Edible and Chemical” yang ditulis oleh Hendry Philips pada tahun 1822 Masehi menyebutkan sbb,

“In old literature reference of the west, before 595 BC, mentioned ‘Calamus’ who traded in western market, that was from East Indies (Indonesia now) and/or also was mentioned term ‘JAVAN’ (‘JAVAN’ is grandson Noah namely) or western people call: ‘JAVA’ or now We know is Jawa Island and/or Java Island (in Sanscret: ‘YAVANA’ or ‘YAWANA’), which explained by Prophet Ezekiel 595 BC and also Alexander the Great era.”

Terjemahan:
“Dalam Literatur Kuno yang berasal dari tahun 595 Sebelum Masehi, disebutkan bahwa ‘CALAMUS’ (sejenis bambu) yang diperjualbelikan di Pasar Barat, berasal dari India Timur (Indonesia sekarang) dan atau juga disebut sebagai ‘JAVAN’ (JAVAN adalah cucu dari Nabi Nuh) atau orang-orang barat menyebutnya ‘JAVA’ atau sekarang kita menyebutnya sebagai ‘PULAU JAWA’ atau ‘PULAU JAVA’ (dalam Bahasa Sansekerta disebut ‘YAVANA’ atau ‘YAWANA’) sebagaimana disebutkan oleh Nabi Ezekiel pada tahun 595 Sebelum Masehi dan juga pada era Alexander Agung.”

Dan dalam buku “Java: Past & Present A Description Of The Most Beautiful Country In The World, Its Ancient History, People, Antiquities, And Products” yang ditulis olej Donald Maclaine Campbell pada tahun 1915, disebutkan bahwa:

“Pemerintahan, ilmu pengetahuan, dan seni, berbicara secara luas tentang Japhetic, dan hanya tentang Japhetic saja. Hal ini menjadi alasan yang menjelaskan bahwa penduduk awal Pulau JAWA atau Pulau JAVA, saya ulangi, adalah ras asli yang muncul dari keempat putra JAPHET, dan suku atau masyarakat pulau itu disebut dengan memakai nama putranya. Ras JAWA atau Ras JAVAN ini, selain menyebar ke Hindia Timur, Kamboja, Siam, juga ditemukan di Suriah dan Yunani.”

Jadi dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa YAVAN atau YAVANA itu berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bin JAPHET, yang kemudian menjadi Penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA yang dalam bahasa sansekerta disebut sebagai YAVA-DVIPAM atau YAWA DWIPA.

Lantas bagaimana ceritanya, YAVAN atau YAVANA yang berasal dari nama cucu Nabi Nuh as yang bernama JAVAN bisa dikaitkan oleh para Wali Songo menjadi JAWI, sementara dalam penjelasan di atas hanya disebutkan bahwa JAVAN adalah penduduk awal atau Ras Asli Pulau JAWA, tanpa embel-embel kata JAWI.

Jawabnya ada dalam Teks Masoret Perjanjian Lama Berbahasa Ibrani berikut ini,

“Inilah keturunan Shem, Ham dan JAPETH, anak-anak Nuh. Setelah air bah itu, lahirlah anak-anak lelaki bagi mereka.”
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:1 )

“(Sedangkan) Keturunan JAPETH adalah Gomer, Magog, Madai, JAVAN, Tubal, Mesekh dan Tiras.”
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:2 )

“Inilah kepulauan GOWI dari keturunan JAPETH, yang masing-masing terbagi menurut tanah mereka, menurut bahasa mereka, dan menurut kaum mereka.”
( Teks Masoret Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 10:5 )

Teks Masoret Perjanjian Lama di atas, menyebutkan bahwa keturunan JAPETH bin NUH, termasuk JAVAN adalah penduduk awal Kepulauan GOWI. Nah kata GOWI disini ternyata dalam Bahasa Ibrani diutulis dengan huruf: GIMEL, VAV dan YOD yang jika ditulis dalam huruf Arab akan menjadi JIM, WAW dan YA yang akan dibaca sebagai JAWIYYI atau JAWI.

Jadi para wali songo itu sebenarnya sudah sangat tepat jika mereka menyebut YAVAN atau YAVANA yang berasal dari kata JAVAN (yakni dari nama JAVAN bin JAPETH bin NUH) sebagai JAWI yang mencakup wilayah teritori NUSANTARA yang mencakup Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Semenanjung Malaysia dan seluruh wilayah Indo-China sebagai tempat tinggal keturunan JAPETH bin NUH.

Mudah-mudahan sampai disini bisa dipahami ya.

Sekarang kita kembali ke bahasan tentang Ramalan Negeri Timur…

Ramalan tentang Negeri di Timur yang akan mengalami kejayaannya di akhir zaman, ternyata tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham, namun juga disebutkan dalam Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur (nama aslinya adalah Raden Noer Rahmad, putra dari Abdul Kohar bin Malik bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad, Irak, lahir pada tahun 1520 Masehi dan wafat pada tahun 1585 Masehi).

Menurut penuturan Kyai Haji Abdul Ghafur, pengasuh pondok pesantren Sunan Drajad yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, disebutkan bahwa sekitar tahun 900-an Masehi, para wali allah yang disebut dengan Wali Abdal yang berjumlah 40 orang, berkumpul di Baghdad (Irak) melakukan rapat pleno untuk mengkaji salah satu hadits Rasulullah saw yang menubuwatkan kejayaan Islam akan bangkit dari Timur. Daerah timur sebelah mana, ternyata dalam hadits juga tidak dijelaskan oleh Rasulullah saw.

Setelah bermusyawarah, akhirnya para Wali Abdal ini memutuskan untuk mencari Negeri yang berada di timur. Tapi para Wali Abdal ini masih bingung tentang lokasi negeri yang dimaksud. Namun salah satu wali abdal berucap, bahwa Rasulullah saw pernah bersabda bahwa ciri penduduk negeri itu ada dua, yakni pertama memiliki ciri-ciri fisik yang berada “di tengah-tengah”, dan yang kedua, penduduknya memiliki tingkah laku yang baik.

Akhirnya para wali melakukan kajian secara geografis, sosiologis dan antropologis. Dicarilah suatu daerah yang secara geografis strategis dan subur, secara sosiologis memiliki peradaban, akhlak dan kebudayaan yang baik, serta secara antropologis berperawakan sedang, tidak pendek dan juga tidak terlalu tinggi, kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, rambutnya tidak keriting dan juga tidak terlalu kaku, matanya tidak sipit dan juga tidak terlalu lebar.

Atas parameter tersebut, maka dipilihlah NEGERI NUSANTARA sebagai negeri yang berada di timur yang perlu digarap para Wali Abdal guna menyongsong kebangkitan Islam dari Timur.

Apa yang dituturkan oleh Kyai Haji Abdul Ghafur, yang merujuk dari kitab yang ditulis oleh Sunan Sendang Duwur ini, memiliki kemiripan konteks dengan apa yang pernah disampaikan Kyai Haji As’ad Syamsul Arifin dalam salah satu ceramahnya pada tahun 1980-an sebagai berikut,

“Dalam rapat para ulama di Kawatan, Surabaya, sekitar tahun 1925 Masehi, ada seorang ulama yang menyampaikan pendapatnya. Ulama tersebut mengatakan bahwa ia menemukan satu teks sejarah yang ditulis oleh Kanjeng Sunan Ampel yang menyatakan demikian: ‘Waktu saya (Sunan Ampel) mengaji pada paman saya di Madinah, saya pernah bermimpi bertemu Rasulullah saw seraya berkata pada saya (Sunan Ampel): Islam ahlussunnah wal jamaah ini bawalah hijrah ke INDONESIA karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam ahlussunnah wal jamaah. Bawalah ia ke INDONESIA’.”

Dan hal menariknya adalah bahwa ternyata Ramalan tentang Negeri di Timur ini, ternyata juga tidak hanya disebutkan dalam Kitab Al-Jifr A’zham dan Kitab yg ditulis oleh Sunan Sendang Duwur, melainkan juga disebut dalam Kitab Veda Bhavisya Purana, khususnya Bagian Pratisara Parwa yang berisikan berbagai ramalan tentang masa depan hingga akhir zaman. Dalam Kitab Veda Bhavisya Purana tersebut disebutkan bahwa orang-orang YAVANA akan menguasai peradaban dunia pada akhir Zaman Kaliyuga. Lagi-lagi kita dihadapkan pada kata kunci ”YAVANA”.

Saya ulangi sekali lagi ya…
Kata kuncinya disini adalah YAVANA …

Dalam penjelasan saya sebelumnya, sudah saya jelaskan bahwa kata YAVAN atau YAVANA merupakan istilah serapan dari Bahasa Vedic Sanskrit (Sansekerta), yang berasal dari kosakata “YAVA-DVIPAM” atau “YAVA DVIPA” yang kemudian mengalami proses transliterasi menjadi “JAVA DWIPA” atau “JAWA DWIPA” yang berarti PULAU JAWA.

Dalam Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda Bab 40, disebutkan:

“yatnavanto YAVA-DVIPAM sapta rajyopa-sobhitam”

Terjemahan:
“(Sugriva berkata): Selanjutnya kalian akan memasuki wilayah YAVA-DVIPAM (PULAU JAWA) yang termahsyur yang terdiri atas tujuh kerajaan.”
( Kitab Veda Ramayana, Kiskinda-Khanda, 40:30 )

Sebagaimana telah dijelaskan dalam penjelasan sebelumnya bahwa Kitab Veda Ramayana, bagian Kiskinda-Khanda, mencatat bahwa pada Zaman Tetrayuga (900 ribu tahun yang lalu) telah berdiri Tujuh Kerajaan megah di Pulau JAWA, yang kemudian dimaknai sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama, yakni:

  1. Yava Dvipa (Pulau Jawa).
  2. Kara Dvipa.
  3. Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera).
  4. Malaya Dvipa (Semenanjung Melayu).
  5. Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan).
  6. Varah Dvipa.
  7. Sula Dvipa (Pulau Sulawesi).

Sementara Kitab Veda Mahabharata (Veda Mahabharata 6.604), yang ditulis pada 5000 tahun yang lalu, menyebutkan teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas Tujuh Pulau Utama ini sbb:

  1. Jambu Dvipa (Dataran India).
  2. Plaksha Dvipa (Pulau Sulawesi).
  3. Shalmali Dvipa (Pulau Papua).
  4. Kusa Dvipa.
  5. Krauncha Dvipa (Pulau Kalimantan).
  6. Shaka Dvipa (Pulau Jawa).
  7. Pushkara Dvipa.

Memaknai YAVAN atau YAVANA sebagai YAVA-DVIPAM yang mencakup wilayah teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama ini juga dijelaskan dalam penjelasan yang berbeda oleh Mas Oedi (Harunata Ra) sbb:

“Kisah pun berlanjut. Akhirnya Manusia diturunkan ke Bumi dan berkembang menjadi berbagai bangsa dengan ras yang berbeda. Sangat lama mereka hidup di periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra), lengkap dengan berbagai keunikan dan lika-liku kehidupannya. Dan periode zaman pertama (Purwa Duksina-Ra) pun harus berakhir lalu digantikan dengan periode zaman kedua (Purwa Naga-Ra). Setelah semuanya cukup waktu, maka periode zaman kedua itu pun harus berakhir dan digantikan dengan periode zaman ketiga (Dirganta-Ra). Nah, pada masa awal periode zaman ketiga (Dirganta-Ra) ini, setelah 1 miliar tahun berlalu, maka untuk pertama kalinya satu di antara kelima sosok dari bangsa Safaru turun ke Bumi. Ia bernama Amarun dan langsung membangun sebuah negeri di atas awan dengan nama YAVANA. Negeri ini (Negeri YAVANA) sangat tersembunyi (tak kasat mata) dan posisinya berada di antara Yava Dvipa (Pulau Jawa), Hiranya Dvipa (Pulau Sumatera), Varuna Dvipa (Pulau Kalimantan), dan Sula Dvipa (Pulau Sulawesi) sekarang. Lalu selang beberapa waktu kemudian, ke empat bangsa Safaru lainnya yang bernama Asorin, Hadirar, Kasibar, dan Giwasur, ikut-menyusul dan tinggal di negeri tersembunyi yang disebut YAVANA itu.”

Jadi apa yang disampaikan oleh Mas Oedi (Harunata Ra) tentang keberadaan NEGERI YAVANA di atas semakin menegaskan bahwa yang dimaksud dengan NEGERI YAVANA itu memang merujuk ke YAVA-DVIPAM atau YAVA DVIPA yang tidak hanya dimaknai sebagai Pulau JAWA saja tetapi juga mencakup teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana (900 ribu tahun yang lalu) dan Kitab Veda Mahabharata (5 ribu tahun yang lalu).

KESIMPULAN

Kitab Hindu Veda Bhavisya Purana, bagian Pratisara Parwa yang berisikan ramalan-ramalan tentang masa depan, Kitab Al-Jifr A’zham yang berisi pernyataan-pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib ra tentang akhir zaman, dan Kitab Sunan Sendang Duwur yang berasal dari zaman Wali Songo, ketiganya sama-sama menubuwatkan tentang sebuah Negeri yang berada di Timur yang kelak akan mengalami kejayaannya dan menguasai peradaban dunia di akhir zaman.

Dan Negeri itu dikenal dengan nama YAVAN, YAVANA, AL-YAVAN, AL-YABAN, dan YAVA DVIPA yang dapat diartikan sebagai teritori wilayah NUSANTARA yang terdiri atas tujuh pulau utama, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Veda Ramayana, dan Kitab Veda Mahabharata.

Wallahu ‘alam bishshawab.

Oleh : Wikanti Hartati, Ahmad Samantho (Dewan Adat Budaya dan Adab Nusantara), dan Ustadz Habib Syahir Alaydrus (Habib Syahdu Ciawi Bogor)