Dian Sari Kurniati Kreasi Mukena Customized Katun Jepang Banyak Model

Dian Sari Kurniati Kreasi Mukena Customized Katun Jepang Banyak Model
Rabu | 8 Maret 2017 | 18:21 WIB

Hallo.id - Inspirasi Dian Sari Kurniati membuat mukena sebagai perlengkapan utama kebutuhan sholat muncul di tengah tren mukena berbahan katun jepang pada 3-4 tahun lalu. Awalnya ia membuat mukena untuk dipakai sendiri hingga  terbersit niatnya menjadikan sebuah usaha, apalagi saat itu bertepatan dengan momen menjelang Lebaran. “Sekitar  3-4 tahun lalu mukena dari bahan katun jepang memang lagi booming karena motifnya lucu-lucu dan menarik. Kebetulan mertua saya membeli bahan katun jepang dengan motif lucu-lucu dan akhirnya dibuat mukena untuk kebutuhan pribadi. Setelah itu saya mencoba memasarkan produk mukena.  Responnya ternyata positif apalagi jelang momen Lebaran, dari produksi perdana sebanyak 20 mukena langsung terjual dan balik modal hanya dalam satu bulan saja,” kenang Dian.

Modal awal membuat 20 mukena sekitar Rp 6 sampai 8 juta terutama untuk membeli bahan kain katun jepang. Dian juga menggunakan jasa penjahit di sekitar rumahnya dan berpengalaman menjahit di pabrik konveksi yang kemudian dikaryakan. “Mereka juga bisa mengerjakan jahitan di rumah mereka sendiri. Dari awalnya hanya satu orang penjahit, saat ini jumlah penjahit saya sekitar 5 orang dan dua orang diantaranya  berpengalaman sebagai TKW di sebuah butik di Arab,” tambahnya.

Setelah membuat mukena ready stock sebanyak 20 buah, Dian memutuskan untuk menerapkan sistem pre order. Dian menyediakan pilihan motif kain dan satu sampel model  mukena, lalu  konsumen yang ingin membeli mukena bisa request motif dan model yang diinginkan (customized).  Dengan begitu konsumen lebih leluasa memilih motif dan model mukena.  “Jadi saya beli bahan kain berbagai motif lalu saya foto dan pajang di instagram beserta sampel model mukena. Di awal usaha saya ada 2 model dan saat ini sudah berkembang 11 model mukena,” terang Dian ramah.

Usaha mukena dengan sistem pre order ini beresiko kecil karena dibuat setelah konsumen melakukan order. Jika ada motif kain yang tidak diminati konsumen dalam kurun waktu tertentu, Dian baru membuatnya menjadi mukena ready stock  dan biasanya setelah jadi mukena, baru konsumen ada yang tertarik membeli.

            Model mukena kreasi Dian diberi merek Majda Farha yang artinya wanita yang mulia dan bahagia. Antara lain model Afikah, Alika, Aliya dan Afiyah yang cocok dipakai pada saat travelling.  Satu mukena Afikah set terdiri dari atasan bawahan terpisah dan mini sajadah kancing tiga sisi (multifungsi sebagai tas). Di bagian kepala menggunakan pet dan untuk mempermanis tampilan mukena diberi aplikasi rumbai dan renda dengan tali serut di dada.  Tepi atasan dan bawahan mukena juga diberi tambahan rumbai dengan neci warna senada, dan pada tepi bawahan diberi list motif atasan. Model Alika juga terpisah atasan dan bawahan, di bagian kepala diberi aplikasi karet di kening dan poni, tepi atasan diberi renda dan rumbai, dilengkapi mini sajadah kancing tiga sisi (multifungsi sebagai tas). Aliya  hampir sama dengan model Alika namun tepi atasan renda tanpa rumbai, dan Afiyah hampir sama dengan mukena Afikah namun tepi atasan tanpa rumbai.

Berikutnya ada mukena Aisya dengan model hoodie yang menyatu antara atasan dan bawahan dan dipermanis dengan tali serut di bagian perut, dilengkapi mini sajadah dan tas cantik warna motif senada.  Model lainnya Almaira dengan atasan tanpa tutup kepala (model sabrina) dengan tambahan rumbai dan renda di tepi atasan, rumbai dan tali serut di bagian dada, dilengkapi mini sajadah dan tas cantik warna motif senada. Model mukena Aflah atau mukena reguler dengan tepi atasan diberi rumbai dan renda dan tepi bawahan polos tanpa rumbai dan renda, dilengkapi mini sajadah dan tas cantik warna motif senada. Mukena reguler lain yaitu Alulla dengan tepi atasan maupun bawahan polos tanpa rumbai dan diberi renda,  dilengkapi mini sajadah dan tas warna motif senada. Dian juga membuat model mukena reguler Aziza yang hampir sama dengan model Aflah tetapi tepi atasan menggunakan rumbai dengan motif bawahan.

Harga eceran untuk pembelian 1 sampai 5 pcs mukena berkisar Rp 245 ribu sampai Rp 287 ribu tergantung model, dan untuk pembelian grosir mendapat diskon berjenjang hingga 20%. Dalam sistem pre order ini, pembuatan mukena dilakukan setelah konsumen mentransfer uang secara full payment, dan mukena akan dikirim kepada konsumen 3-5 hari kemudian. Biasanya konsumen membeli secara grosir baik lusinan maupun kodian untuk dijual lagi.

Kelebihan mukena katun jepang customized kreasi Dian terutama dari banyaknya model dan motif yang disediakan. Dian pun berusaha memenuhi keinginan konsumen yang bisa request motif maupun tambahan dari model standar. Dian juga memperhatikan kenyamanan konsumen dengan membuat atasan mukena ukuran lebih panjang di bagian belakang sekitar 5-10 cm dibandingkan bagian depan, misalnya untuk atasan mukena Afikah  bagian depan 115 cm dan bagian belakang 120 cm.  “Saya memastikan konsumen yang pesan mukena sudah pasti sesuai selera mereka, karena mereka benar-benar memilih model dan motif sesuai keinginan.  Dari model standar yang saya punya, konsumen bisa request penambahan misalnya minta renda ukuran besar, jadi kita ikuti sesuai kemauan konsumen,” terangnya.

Meskipun bukan lulusan desain, namun Dian membuat model mukena dari inspirasinya sendiri mulai dari bentuk kepala, renda dan lainnya dan tetap memperhatikan kenyamanan saat dipakai, apalagi desain mukena tidak terlau rumit seperti pakaian yang harus terus mengikuti tren.

Bahan. Dian memilih katun jepang karena hampir seminggu sekali motif barunya keluar. “Kita dimanjakan banget dengan motif yang bagus dan menarik. Kalau bahannya motifnya bagus saya baru beli sehingga tidak banyak stok, kecuali untuk pelengkap seperti renda saya stok bisa. Saya meminimalisir resiko membeli bahan stok untuk menghindari penumpukan,” ungkapnya.

Meskipun bahan yang digunakan kain katun jepang , Dian juga menerima permintaan jika konsumen minta bahan lain seperti sutra dengan harga jual lebih mahal karena untuk membuat mukena berbahan sutra membutuhkan skill menjahit yang lebih dibandingkan menjahit mukena berbahan katun jepang.  Bahan kain berasal dari pasar Tanah Abang Jakarta yang harganya lebih murah dibanding Pasar Baru Bandung, dan Dian sudah memiliki supplier langganan yang akan mengirim bahan sesuai pesanannya. “Biasanya supplier memberikan up date motif baru. Rata- rata dalam sebulan ada sekitar 20-40 motif yang saya beli, dan per motif  untuk pembuatan hanya 3-5 set mukena saja. Itu pun tergantung ketersediaan bahan di supplier dan bagus tidaknya motif itu,” paparnya.

Satu orang penjahit rata-rata mampu menjahit 8-10 set mukena per hari. Di momen Lebaran saat pesanan meningkat, Dian hanya menambah tenaga harian untuk QC maupun cek benang dan jahitan. Ongkos jahit mukena Majda Farha juga disetarakan dengan ongkos penjahit pakaian bukan konveksi pabrik. “Untuk konveksi pabrik ongkosnya rata-rata hanya Rp 3 ribu sampai 5 ribu per pcs, tapi saya gunakan sistem jahit  biasa dengan ongkos lebih besar karena kita utamakan kualitas. Ada juga karyawan yang khusus mengawasi QC, karyawan yang cek benang dan jahitan. Kalau jahitan kurang bagus maka penjahit harus mau membongkar jahitan, tidak seperti penjahit konveksi,” ungkap Dian.

Pemasaran. Pesatnya perkembangan media sosial membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memasarkan produknya lebih luas, termasuk Dian yang  saat ini menggunakan instagram, Line dan facebook. Untuk mendisplay kain katun jepang dengan berbagai motif dan modelnya, Dian menggunakan iPhone untuk menghasilkan kualitas foto yang baik dan tidak perlu diedit karena sudah real picture. Ia belum terpikir untuk menyewa toko karena untuk membuka toko mau tidak mau produk harus ready stock dan resiko serta biaya operasional juga lebih besar.

Dian membuat produk mukena dari bahan berkualitas dengan desain customized untuk menghadapi persaingan. Selain itu mukenanya memiliki banyak model dengan motif yang menarik. “Saya gunakan katun jepang yang ada tulisan Japan Design dan dari pabriknya menggunakan material bahan berbeda-beda. Misalnya Japan Design yang di-print di bahan katun twill dan ada yang di-print di bahan katun paris,” terangnya.

Kini usaha yang sudah berjalan sejak 3 tahun lalu mampu meraih omset rata-rata per bulan sekitar Rp30 sampai 50 juta dan akan meningkat 3-4 kali lipat jelang Lebaran, dengan keuntungan bersih sekitar 35-50%. Dian juga berencana ke depannya membuat website untuk menjangkau  market lebih luas dan mengikuti berbagai pameran untuk membangun brand produknya. Market mukena kreasi Dian lebih menyasar kelas menengah ke atas karena merupakan produk custom. Di momen Lebaran, ada juga konsumen yang memesan mukena untuk dijadikan parcel yang dikemas menarik sehingga harga jual lebih mahal. Saat ini untuk kemasan mukenanya menggunakan plastik biasa. “Kalau ada permintaan untuk hadiah atau parcel kita juga melayani, dengan mencantumkan kartu ucapan  dan kemasan lebih menarik tidak hanya plastik biasa,” terangnya.

Kendala usaha ini misalnya ketika ada konsumen yang membandingkan harga jual mukenanya dengan pelaku lain. Menurut Dian konsumen itu belum paham meskipun sama-sama berbahan katun jepang namun harga mukena sangat tergantung kualitas kain katun jepang yang harganya juga bervariasi. “Terkadang konsumen ada yang kurang yakin apa benar kain Japan Design. Maka dari itu, saya mendisplay foto kain yang masih ada tulisan Japan Design agar konsumen percaya bahwa kain yang saya gunakan Japan Design tapi dari pabriknya di-print di material berbeda dan secara keseluruhan Japan Design bagus bahannya,” urainya.

Dian juga pernah mengalami pengalaman pahit saat menerapkan sistem pembayaran dengan DP tetapi ketika barang sudah dikirim, sisa pembayaran sulit ditagih. Kendala lain terkait kualitas warna motif kain yang didisplay di media sosial. Terkadang ada konsumen  menanyakan perbedaan warna motif kain mukena dengan yang didisplay di media sosial. Menurut Dian itu karena kamera HP sangat berpengaruh terhadap kualitas warna kain, namun hal itu jarang terjadi. 

BOX

Rintis Usaha Gamis untuk Harian hingga Pesta

Setelah 3 tahun usaha mukenanya berjalan dengan omset puluhan juta rupiah per bulannya, Dian mengembangkan produk usahanya dengan membuat busana muslimah gamis yang saat ini baru dirintisnya. “Gamis ini masih coba- coba sebagai pilot project dan saya masih meraba minat konsumen ke arah mana. Ke depannya ingin lebih serius mengembangkan produk gamis, termasuk menyewa toko jika sudah berjalan baik,” tambahnya.

Seperti halnya mukena, gamis kreasinya juga berbahan katun jepang, dan ada juga gamis syari’i. Ia menghindari penggunaan bahan jersey maupun kaos yang membentuk lekukan tubuh. “Prinsip saya ingin muslimah belajar berbusana syar’i yang tidak membentuk tubuh.  Dan saya mau memfasilitasi dari mulai perempuan muslimah yang ingin belajar memakai kerudung sampai mau mengenakan gamis syar’i. Saya tidak sekadar mencari materi dalam berbisnis teapi juga ingin membuat muslimah mengenakan busana syar’i. Maka dari itu saya tidak membuat kerudung di atas dada, pakaian atasan, kemeja, tunik atau celana panjang,” ujarnya.

Bahan katun jepang dengan motif ramai digunakan untuk membuat gamis yang ditujukan bagi konsumen yang mau belajar memakai gamis dan kerudung. Dian juga membuat gamis syar’i dengan warna gelap lengkap dengan cadarnya bagi konsumen yang mau mengenakan gamis syar’i.

Model gamis juga dibagi kategori harian, formal atau pesta tergantung jenis bahan seperti katun jepang,  kain wolly crepe yang sifatnya dingin, jatuh namun tidak lengket di kulit, tidak terlalu tebal dan tidak transparan, halus dan lembut.  Serta kain Saudi yang teksturnya ringan dipakai, halus dan dingin. Kain ini umumnya diproduksi dengan lebar 1,5 meter dan tersedia dalam berbagai variasi warna, diantaranya hitam, hijau toska, coklat tua, pink susu serta ungu tua. Kain saudi ini dipesan dari teman Dian yang mengimpor dari Saudi.

Kisaran harga gamis yang dijual tergantung bahan dan model serta tingkat kesulitan jahit, seperti gamis untuk harian berbahan katun jepang sekitar Rp 200-250 ribu per pcs, dan untuk gamis pesta harganya lebih mahal dari gamis harian.

Pemasaran gamis juga seperti mukena dengan sistem pre order, gamis baru dibuat setelah konsumen memilih motif kain yang diinginkan serta modelnya.  “Jadi konsumen bisa memilih mau dibuat mukena atau gamis. Saya display model contoh satu gamis dan konsumen memesan sesuai yang diinginkan. Jadi saya juga jarang buat gamis ready stock,” tambah Dian yang juga masih memiliki aktivitas lain membantu administrasi dan keuangan usaha suaminya seperti penyulingan minyak atsiri, keripik kentang dan bunga potong.

 

 

 


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.