Kue Rangi Ala Mang Tata, Wanginya Merobek Perut Kroncongan

Kue Rangi Ala Mang Tata, Wanginya Merobek Perut Kroncongan
Kue Rangi.
Minggu | 18 September 2016 | 17.52 WIB

Hallo.id, Jakarta – Kue rangi merupakan salah satu jajanan tradisional Betawi yang cukup di gemari di indonesia. Kue Rangi tergolong jajanan yang langka di jumpai. Kue dari campuran kelapa parut dan tepung sagu ini disajikan dengan saus gula merah yang dikentalkan dengan sedikit sagu.

Sedangkan untuk saus gula merahnya bisa juga ditambahkan potongan nangka, nanas atau durian dan buah-buahan lain sesuai selera anda. Kue ini rasanya gurih dan beraroma wangi karena dimasak dengan cara dipanggang menggunakan bahan bakar kayu.

Cetakkan kue rangi lebih mirip dengan kue pancong atau bandros tapi ukurannya lebih kecil. Beberapa pedagang kecil membuat kue rangi tanpa menggunakan cetakan kue jadi hanya dikecilkan dan ditipiskan ukurannya. Selain rasanya yang enak, cara membuatnya pun cukup mudah. Berikut resep untuk membuat kue rangi di rumah.

Kue Rangi juga bisa didapatkan di Bumi Perkemahan Ragunan, saat santai atau berkumpul bersama sahavat dan keluarga. Ditempat ini pembaca akan melihat sosok pria paruh baya bernama Mang Tata yang mendorong gerobaknya bertuliskan Kue Rangi.

Dari gerobak Tata akan tercium bau harum menyebar. Racikannya yang jitu ketika menaruh larutan gula diatas adonan akan terasa khasnya jaman tempo dulu. Untuk memasak adonan ini tidak membutuhkan waktu lama. Ketika kue sudah jadi lalu menusukan besi kedalam kue tersebut untuk diangkat.

“Sensasi kue ini begitu digigit, kue rangi ini akan renyah dan manis dan disarankan untuk menikamti kue ini selagi masih panas, karena jika sudah dingin rasanya kurang gurih dan kue akan mengeras dan alot dan gula merahnyapun tidak sekental pada saat masih panas,” ujar Tata kepada Halloapakabar.com, Minggu (18/9/2016).

Pria beranak sembilan ini mengaku sudah berjualan Kue Rangi sudah 17 tahun ini. Ternyata cukup mengagetkan, meski kue rangi itu merupakan kue khas Betawi, tetapi mang Tata justru berasal dari Sumedang, Jawa Barat. Tata sengaja datang dari kampungnya untuk mengadu nasib di Jakarta.

Mang Tata tinggal di daerah Kampung Air, Jati Padang Bersama istri dan 9 orang anaknya. Kini yang masih jadi tanggungan masih 5 orang. Ketika ia merantau tujuannya tak lain demi untuk mencari nafkah buat keluarga, termasuk untuk biaya anak sekolah.

Mang tata, termasuk seorang pedagang yang istiqomah dalam berjualan. Ia tidak pindah profesi, seperti jualan bakso, soto mie atau lainnya. Ia tetap menekuni jualan Kue Rangi dengan suka dan dukanya. Setiap harinya dia berjualan keliling dan Sabtu-Minggu mangkal di Buperta Ragunan.

Untuk harga tidaklah terlalu mahal untuk satu lonjor dipatok dengan harga Rp. 2.000,- saja, per bungkus terdiri dari 2 lonjor. Penghasilan yang diperoleh setiap harinya dari adonan 2-3 kg capai Rp. 250.000 dengan keuntungan
Rp. 100.000 itu pun masih kotor.

“Alhamdulillah ya capek-capek nggak capeklah, demi untuk nyekolahin anak dan nafkah keluarga,” ujar mang tata sambil melayani pembeli kue rangi mengahiri perbincangan. (pur/hlb)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.