Rush Money Bentuk Provokasi Baru, Takutkan Nasabah untuk Menarik Dana di Bank

Rush Money Bentuk Provokasi Baru, Takutkan Nasabah untuk Menarik Dana di Bank
Selasa | 29 November 2016 | 0.23 WIB

Hallo.id, Jakarta – Dalam dua pekan terakhir, pasar keuangan Indonesia diguncang dua isu, yakni capital outflow atau pelarian dana asing dari pasar modal dan pasar surat utang negara/ obligasi serta provokasi kepada nasabah menarik dana secara besar-besaran di bank atau lebih ngetren dengan rush money.

Kedua isu itu tujuannya sama, menarik dana dari lembaga keuangan dan memindahkan atau menyimpan ke tempat lain. Meskipun tujuannya sama, motifnya berbeda. Capital outflow terjadi karena adanya pertimbangan, dengan menarik dana tersebut dan memindahkan ke tempat lain, investor akan mendapat keuntungan lebih besar.

Sementara, untuk rush money, pemilik dana menarik simpanannya karena khawatir lembaga keuangan akan menghadapi masalah akibat instabilitas politik. Pelarian modal oleh investor asing dipicu kemenangan Donald Trump dalam pemilu Presiden Amerika Serikat (AS), sehingga pasar saham maupun obligasi di negara berkembang, khususnya Asia terguncang.

Keguncangan itu terlihat dari keluarnya dana di pasar saham dan obligasi Asia hingga 11 miliar dollar AS. Keluarnya dana itu karena ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan ekonomi Trump yang akan menyebabkan yield (imbal hasil) obligasi AS naik sehingga nilai tukar dollar AS mengalami reli tertinggi delapan tahun terakhir.

India menjadi negara yang tercatat sebagai negara dengan pelarian modal terbesar disusul Thailand. “Dana keluar dari emerging markets akan terus berlanjut. Kemudian, investor akan melihat apakah Trump akan mengimplementasikan beberapa kebijakan yang selama ini disebutnya sebelum pilpres, seperti stimulus fiskal dan kebijakan perdagangan proteksionisme,” kata Trader di Mizuho Bank Ltd, Masakatsu Fukaya.

Sementara dana pihak ketiga (DPK) di perbankan per April 2016 tercatat sekitar 4.500 triliun rupiah, tetapi sebagian besar dana tersebut didominasi nasabah korporasi, bukan nasabah retail atau perorangan. Hal yang patut dikritisi dari dua isu tersebut yakni sikap pemerintah yang terkesan lebih khawatir dengan isu rush money ketimbang capital outflow.

Padahal, jika dilihat substansinya, capital outflow sebenarnya lebih merugikan keuangan pemerintah karena mereka kabur ke luar negeri tidak hanya sejumlah dana yang masuk ke sini, tetapi kabur bersama yield yang mereka sudah dapat selama diinvestasikan di Indonesia Sementara, rush money hanya dipicu isu murahan di media sosial tidak berdasar. Kalau pun itu terjadi, dananya tidak akan lari ke mana-mana, karena hanya ditarik di bank lalu disimpan di rumah. (mae/fkb)


Hallo, untuk kerjasama dengan redaksi Hallo.id, dan jaringan media digital Hallo Media Network (HMN), hubungi Email :
redaksi@hallo.idredaksihallo@gmail.com
WhatsApp Center : 0853-15557788, 0819-15557788. Tks.