by

Para Ilmuwan Dunia Sebut Indonesia Mengkhawatirkan Hadapi Corona

Hallo.id, Jakarta – Para ilmuwan dunia menyoroti cara Indonesia dalam menangani virus corona (Covid-19). Tingkat kematian sekitar delapan persen jauh lebih tinggi daripada rata-rata internasional telah menimbulkan kekhawatiran terhadap penanganan wabah virus corona di Indonesia.

Di samping itu, banyak rumah sakit di seluruh negeri yang ditunjuk untuk merawat pasien virus corona namun belum memiliki peralatan yang memadai. Sementara itu, ada laporan yang menyebutkan bahwa ada rumah sakit telah menolak pasien karena ruangan yang sudah penuh.

Profesor virologi Universitas Queensland, Ian Mackay menyoroti beberapa tanda peringatan yang datang dari Indonesia yang memberi sinyal bahwa situasinya bisa jauh lebih buruk daripada yang ditunjukkan oleh angka yang telah dipublikasikan.

BACA JUGA :  Target 30 Juta di 2024, Jokowi Minta Percepat Transformasi Sektor UMKM ke Ekosistem Digital

“Ketika Anda melihat banyak kematian dalam waktu singkat, seperti yang terjadi, itu menunjukkan ada beberapa kasus selama beberapa waktu. Juga, kami telah melihat banyak turis yang terinfeksi keluar dari Indonesia. Mereka hanya belum cukup diuji,” kata Ian Mackay, seperti dilansir dari The Sydney Morning Herald, Selasa (24/3/2020).

Semenata itu, Dosen Griffith University Australia Lee Morgenbesser mengatakan dia tidak percaya dengan angka yang dilaporkan oleh Pemerintah.

BACA JUGA :  322 Kasus Baru Positif Covid-19 di Bangkalan Selama 14 Hari, Ini Pemicunya

“Ini adalah ujian terhadap sesuatu yang tidak bisa kamu lihat dan yang kamu punya sedikit kontrol, paling tidak pada awalnya. Yang diuji adalah seberapa transparan dirimu, akuntabel dirimu, dan seberapa efisien sistem yang telah kamu tempatkan,” kata Lee Morgenbesser.

“Dari semua negara di Asia Tenggara, Indonesia inilah yang paling saya khawatirkan. Ibarat bom waktu. Populasinya sangat besar dan birokrasi yang tidak efisien,” tambah Lee Morgenbesser.

“Penanganan krisis yang buruk di negara itu akan membuatnya menjadi lebih buruk lagi,” ungkap Morgenbesser.

BACA JUGA :  Ternyata Bukan di Blitar, Politisi PDI Perjuangan Sebut Tempat Kelahiran Bung Karno di Sini

Tam, ahli epidemiologi mengatakan Malaysia, Indonesia dan Filipina menghadapi tantangan yang sangat spesifik karena populasi mereka yang besar dan tersebar luas.

“Kita tidak dapat hanya mengandalkan kapasitas nasional masing-masing, karena epidemi di negara-negara lain terus menimbulkan risiko impor ulang dan transmisi lokal. Ini berarti bahwa untuk memiliki respons yang efektif dan terkoordinasi, kita membutuhkan kerja sama jauh lebih besar dalam memperkuat sistem kesehatan di seluruh wilayah,” ujar Tam. (mos)



Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.