by

RR Senang Boni Hargens Sudah Sadar Setelah Mabok Dekat dengan Kekuasaan

Hallo.id, Jakarta – Pengamat politik Boni Hargens mengkritisi perilaku sejumlah Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) dari kalangan milenial yang disebutnya telah mencoreng reputasi dan legitimasi pemerintah. Ia pun meminta supaya ada tindakan tegas terhadap Stafsus Jokowi itu.

Sikap kritis Boni Hargens itu rupanya membuat senang mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli. Ia menyebut Boni sudah sadar setelah sempat merasa begitu dekat dengan kekuasaan sehingga membela apapun yang dilakukan oleh pemerintah.

“Wah saya senang Boni Hargens sudah kembali sadar. Pernah mabok merasa terlalu dekat dengan kekuasaan. Apapun, walaupun tidak benar, yang dilakukan status-quo dibela (emoji tertawa). Semoga nurani dan rasionalitas kembali lurus (emoji senyum),” tulis Rizal Ramli di akun Twitternya, Rabu (15/4/2020).

Sebelumnya, Boni Hargens mengatakan, saat ini pemerintahan Jokowi dihadapkan pada tantangan internal yang cukup serius di tengah kompleksitas penanganan wabah virus corona (Covid-19).

Salah satu tantangan internal yang dimaksud Boni yakni soal selentingan mengenai Stafsus Jokowi dari kalangan milenial yang mengirim surat kepada para camat atas nama perusahaan pribadinya tetapi dengan memakai logo resmi kenegaraan, hingga ada oknum Stafsus Jokowi yang diduga berbisnis dengan urusan Covid-19.

Menurut Boni, tindakan Stafsus Presiden itu perlu ditindak tegas. Pasalnya, perilaku penyimpangan tersebut telah membuat reputasi dan legitimasi pemerintah tercoreng serta memperunyam keadaan di saat pemerintah tengah bekerja keras menangani korban wabah corona dan menjaga persepsi publik tetap positif.

‚ÄúSituasi yang kacau di internal Istana akan menambah runyam keadaan. Saya kira demi perbaikan kinerja dan penyelamatan citra pemerintah perlu ada tindakan tegas terhadap bentuk perilaku menyimpang macam itu,” kata Boni di Jakarta, Rabu (15/4/2020).

Boni menambahkan, masalah ini cukup serius karena bukan saja berkaitan dengan etika jabatan, tapi juga menyangkut faktor kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah yang kerap dilanda fitnah dan ancaman permainan politik dari para pecundang yang ingin mengail di air keruh. (net)